Tampilkan postingan dengan label ilmu lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu lingkungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juli 2015

Efektivitas Pengelolaan Jaringan Irigasi. Peran Irigasi Terhadap Produktivitas Usahatani Padi Sawah. Persepsi Anggota P3A Terhadap Pengelolaan Irigasi

Efektivitas Pengelolaan Jaringan Irigasi

Efektifitas pengelolaan jaringan irigasi ditunjukkan oleh nisbah antara luas areal terairi terhadap luas rancangan. 
Dalam hal ini semakin tinggi nisbah tersebut semakin efektif pengelolaan jaringan irigasi. 
Dengan pemahaman seperti itu, di lapangan diidentifikasi rasio atau nisbah luas areal terairi terhadap rancangan luas areal mencapai 91% (0,91). 
Artinya dari seluruh target areal yang akan diairi hanya ada sekitar 9% saja yang tidak terairi. 
Dibandingkan dengan tahun sebelumnya (89%), efektifitas pengelolaan air ini mengalami peningkatan sekitar 2%. 

Terjadinya peningkatan indeks luas areal (IA) di DI Pengasih diduga selain karena adanya penambahan luas sawah baru, juga dapat diartikan bahwa irigasi yang dikelola secara efektif mampu mengairi areal sawah sesuai dengan yang diharapkan.

Peran Irigasi Terhadap Produktivitas Usahatani Padi Sawah

Di dalam teknologi usahatani terutama padi sawah, peran irigasi sangat strategis. 
Namun perannya tersebut akan tergantung juga pada dukungan teknologi lainnya seperti penggunaan benih unggul bermutu tinggi, pengolahan tanah yang sempurna, pemupukan yang berimbang dan pengendalian hama-penyakit. 
Dengan demikian peran irigasi bukan satu-satunya unsur teknologi yang bisa mendukung peningkatan produktivitas.

Terjadinya interaksi kegiatan irigasi dengan teknologi lainnya dalam mendukung produktivitas usahatani, menyebabkan peran irigasi tersebut tidak secara eksplisit dapat diidentifikasi dampaknya terhadap peningkatan produksi. Hal tersebut, secara empiris di lapangan ditunjukkan oleh keragaan perolehan produktivitas usahatani padi.

Dalam periode tahun 2002 – 2003, perolehan produksi padi per hektar rata-rata terjadi peningkatan relatif kecil yakni dari 5,68 ton per hektar pada tahun 2002 menjadi 5,70 ton per hektar pada tahun 2003 atau meningkat sekitar 0,02 ton per hektar. 
Disisi lain dari analisis irigasi ditunjukkan bahwa dalam peride tersebut terjadi penurunan efisiensi pengelolaan jaringan irigasi. 
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tidak ada keterkaitan antara meningkatnya produktivitas usahatani padi dengan penurunan efisiensi pengelolaan jaringan irigasi. 
Peningkatan produktivitas usahatani, sejalan dengan meningkatnya efektivitas pengelolaan air, namun hal ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut keterkaitannya.

Persepsi Anggota P3A Terhadap Pengelolaan Irigasi

Pemahaman tentang persepsi anggota P3A terhadap pengelolaan irigasi diperlukan untuk mengukur sejauhmana tingkat kepuasannya terhadap kinerja pengelolaan irigasi yang dilakkan pengurus P3A. 

Dalam hal ini yang diungkap adalah kepuasan anggota terhadap beberapa aspek pengelolaan irigasi antara lain dalam hal kecukupan pemberian air, ketepatan waktu dan keadilan yang dilakukan pengelola.

Hasil identifikasi di lapangan terungkap bahwa persepsi anggota P3A terhadap aspek-aspek pengelolaan air irigasi ini menunjukkan masih relatif rendah. Kenyataan tersebut ditunjukkan secara faktual berdasarkan jawaban yang terungkap. 
Terhadap aspek kecukupan air, misalnya, hanya sekitar 50,13 % anggota P3A yang menyatakan tingkat kecukupan baik. Demikian juga terhadap aspek ketepatan waktu dan keadilan yang dilakukan pengelola, kurang dari 50 % anggota memberikan respon yang positif. 
Anggota P3A yang menyatakan pengaturan air irigasi tepat hanya dinyatakan oleh sekitar 48,8% dan keadilan dalam pengelolaan air dinyatakan oleh sekitar 43,53 %. 
Berdasarkan informasi tersebut, untuk sementara dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja pengelolaan air oleh P3A masih perlu ditingkatkan lagi.

Masih rendahnya kinerja pengelola yang ditinjau dari derajat kepuasan anggota antar alain disebabkan kurangnya kepekaan, pengetahuan dan keterampilan pengelola P3A dalam memahami/mengikuti dinamika iklim sehingga cenderung menetapkan jadwal pola tanam yang relatif rutin. Hal itu dilakukan karena etani mengasumsikan bahwa secara kuantitas, sumberdaya air selalu cukup dan memenuhi persyaratan. Kenyataannya sering terjadi ketidak cukupan, ketidak tepatan, ketidak adilan dalam pembagian air. Akibatnya petani gagal panen sehingga produktivitas usahatani menurun.

Salah satu solusi yang disarankan adalah perlunya menyusun pola tanam yang berbasis pada kondisi dinamika iklim, antara lain meliputi keragaan bulan basah dan bulan kering.

KESIMPULAN DAN SARAN
  1. Dalam kurun waktu satu tahun (2002 – 2003) pengelolaan irigasi di wilayah pengkajian menunjukkan penurunan efisiensi teknis dengan indikator kenaikan PIA, PIR dan PAR masing-masing mencapai 0,76 lt/dt/ha ( 82,6%); 1,11 lt/dt/ha (83,4%) dan 1,11 lt/dt/ha (83,4%), sementara itu dari segi efektivitasnya meningkat dari 89 % pada tahun 2002 menjadi 91 % di tahun 2003.
  2. Peningkatan produktivitas usahatani tidak sejalan dengan efisiensi pengelolaan jaringan irigasi, tetapi sejalan dengan efektifitas operasional jaringan irigasi.
Tingkat efisiensi dan efektivitas operasi jaringan irigasi di lokasi pengkajian masih berpeluang untuk ditingkatkan melalui pelatihan, utamanya menyangkut aspek perencanaan, implementasi dan monitoring. 
Peran pemerintah daerah untuk mendorong instansi terkait berpartisipasi dalam mengelola irigasi, masih tetap diperlukan.

sifat-sifat air

SIFAT – SIFAT AIR



  • kefahaman tentang sifat-sifat air penting kerana banyak aktiviti kimia dan biologi bergantung kepada air
  1. contoh: walaupun air banyak dalam tanah, adakah ia mencukupi pada waktu penanaman
  • molekul air terbentuk oleh ikatan kovalen 2 atom Hidrogen dengan satu atom Oksigen


  • Oksigen menarik elektron lebih lebih kuat dari tarikan oleh Hidrogen, menyebabkan ketidakseimbangan pada taburan cas
 molekul polar
  1. pelarut universal – melarutkan nutrien
  2. daya lekatan (adhesion) dan kejelekatan (cohesion)
  3. menarik kation
  4. tertarik pada lempung bercas
Ikatan Hidrogen
  • takat didih yang tinggi
  • Haba pendam yang tinggi
  • Haba spesifik yang tinggi
  • Menyebabkan ketegaran struktur lempung

Tegangan permukaan (surface tension)
  1. tarikan kapilari
  2. lebih kecil liang, lebih tinggi air naik
  3. perseimbangan antara daya lekatan dan kejelekatan

  • pembajakan yang baik perlu untuk tanah pertanian
  • saliran untuk tanah pertanian:
  1. pasir – sedikit pada interval singkat
  2. tanah lempung – banyak pada interval panjang
Sifat fizikal dan kimia air:
  1. satu-satunya bahan yang dijumpai dalam 3 keadaan pada suhu yang terdapat di mukabumi
  2. Beku pada 0oC dan mendidih pada 100oC
  3. Keadaan pepejal kurang tumpat dari cecair
  4. mempunyai haba spesifik yang tinggi
  5. Air tulin mempunyai pH 7
Impak air ke atas iklim
Pengumpulan dan pertukaran haba yang perlahan
  1. Haba spesifik air: 4.19 X 103J.kg/K
  2. Haba pendam sejatan : 2.26 X 106 J/kg
Mengawal pertukaran tenaga antara litosfera, hidrosfera, dan atmosfera:
  1. pengaliran haba yang rendah
  2. kesan kepada iklim mikro
  3. haba spesifik yang tinggi dan haba pendam sejatan yang tinggi

SUMBER AIR TAWAR (Sumber di permukaan bumi)


SUMBER AIR TAWAR


  • Sumber di permukaan bumi
  1. air hujan
  2. sungai dan alur
  3. tasik dan kolam
  4. takungan air
  • Sumber di bawah permukaan air

  1. air bumi
  2. mata air
  3. telaga
AIR HUJAN

  • Malaysia menerima 990 billion m3 setahun
  • Hujun turun secara bermusim:
  1. Monsun timur laut (Nov – Mac) membawa hujan lebat ke kawasan pantai timur Semenanjung, utara Sabah, dan Selatan Sarawak
  2. Monsum barat daya (Mei – Sep) membawa hujan lebat ke kawasan pantai barat Semenanjung, Sabah dan Sarawak
Alur
  • mengalirkan air ke sungai dan sedikit ke tasik
  • kadar aliran adalah kecil dan mungkin kering pada musim kemarau
Sungai

  • sumber utama air tawar di Malaysia
  • semakin tercemar akibat pembangunan pesat
  • 1987 – 1995, berdasarkan kepada kajian ke atas 119 sistem sungai:
  1. sangat tercemar: meningkat dari 3 – 12%
  2. sedikit tercemar: menurun dari 50 – 45%
  3. bersih: menurun dari 47 – 53%
  • punca pencemaran:
  1. buangan sisa domestik, ternakan dan industri
  2. endapan ampaian dari hakisan tanah akibat pembangunan tanah dan infrastruktur yang tidak terkawal
Tasik dan kolam
  • terjadi pada lekuk yang dasarnya tidak telap air
  • punca air dari kawasan tadahan melalui alur atau sungai, kadangkala dari bawah tanah melalui air bumi
Takungan air
  • Empangan yang dibina merentasi sungai:
  1. Mengimbangi ketidakstabilan aliran sungai
  2. Mengawal banjir
  3. Kegunaan air di musim kemarau
  4. Menghasilkan tenaga elektrik hidro
  • 2 jenis takungan air:
  1.  takungan air simpanan
  2.  takungan air pengagihan
Sumber air di bawah permukaan bumi
  • ujud di bawah tanah terutama di kawasan akuifer dan zon ketepuan
  • akuifer adalah kawasan formasi geologi bawah permukaan bumi yang boleh menakungi air
  • permukaan bebas air bumi dipanggil aras air bumi dan zon di bawah aras ini ialah zon ketepuan
  • zon ketepuan berada di bawah tekanan hidrostatik
  • bahagian antara permukaan bumi dan air bumi dipanggil zon berudara
  • lihat rajah di bawah yang menunjukkan akuifer

Selasa, 30 Juni 2015

Sistem Hutan (Pengaruh Hutan terhadap Lingkungan)

Sistem Hutan 
(Pengaruh Hutan terhadap Lingkungan)


Luas hutan dunia, separohnya merupakan hutan yang terletak di daerah tropika. Dari seluruh hutan di daerah tropika, kira-kira seperempatnya terletak di wilayah Asia-Pasifik dan hampirnya merupakan hutan alam. Sedangkan Indonesia mempunyai hutan tropik terluas ketiga di dunia, dengan ekosistem yang beragam mulai dari hutan tropik dataran rendah dan dataran tinggi hutan rawa gambut, rawa air tawar dan hutan bakau. Ekosistem hutan tersebut mempunyai fungsi dan peranan yang penting. Secara ekologis hutan merupakan sumber keanekaragaman hayati yang sangat kaya, baik flora maupun faunanya dan juga sebagai paru-paru dunia.

Eksploitasi Hutan
Eksploitasi hutan tidak hanya terbatas pada hasil hutannya saja, melainkan pada hutan itu sendiri seperti pembukaan lahan untuk pemukiman, penambangan, pertanian, yang banyak dilakukan di negara-negara berkembang yang mempunyai kepadatan penduduk yang relatif tinggi. Di Indonesia eksploitasi hutan disamping yang disebutkan diatas juga karena adanya pertumbuhan penduduk yang tinggi dan tidak merata, kasus pemilikan tanah secara tradisional, pembukaan lahan untuk program transmigrasi dsb. Untuk mengatasi hal semacam ini diperlukan kesadaran masyarakat yang tinggi mengenai arti pentingnya peranan hutan bagi manusia secara berkelanjutan.

Strategi Ekonomi
Dari aspek ekonomi, hutan merupakan sumber pendapatan penting bagi negara terutama bagi negara-negara yang sedang berkembang, juga bagi penduduk sekitar hutan merupakan sumber pangan. Anonim pembangunan di sector kehutanan selama PJP I telah memberikan dampak yang sangat berarti bagi pembangunan ekonomi dan perbaikan lingkungan hidup di negara kita.



Pengaruh Hutan terhadap Lingkungan
Hutan berpengaruh terhadap faktor lingkungan yaitu iklim, tanah dan air. Contoh hasil penelitian tentang pengaruh hutan terhadap iklim telah dilakukan dengan membandingkan hutan yang sudah ditebang dan hutan yang masih utuh, hasilnya menunjukkan bahwa hutan mempengaruhi iklim setempat (iklim mikro). Pada hutan yang sudah ditebang dapat menimbulkan variasi iklim yang besar dari panas ke dingin, dan dari basah ke kering sehingga kurang cocok untuk pertumbuhan tanaman. Sedangkan pada hutan yang belum ditebang penuh dengan belukar, karena pohon-pohonan mampu mengurangi kecepatan angin, akibatnya mengurangi penguapan air (evaporasi) dari tumbuhan yang terlindung olehnya, sehingga apabila dibawahnya ada tanaman pertanian maka pertumbuhannya akan baik dan dapat meningkatkan hasil panen.

Pohon-pohon hutan juga mempengaruhi struktur tanah dan erosi, sehingga mempengaruhi pengadaan air di lereng gunung. Serasah di lantai hutan dapat mencegah rintikan air hujan untuk langsung jatuh ke tanah, tanpa adanya serasah, tanah lantai hutan akan padat oleh air hujan, dengan demikian daya serapnya berkurang. 

Jadi apabila hutan di lereng gunung habis ditebang, air hujan akan mengalir deras membawa partikel tanah permukaan, yang kemudian bercampur menjadi Lumpur. Peristiwa ini akan menutupi pori-pori tanah di permukaan, pada hujan berikutnya lebih banyak lagi air yang mengalir di sepanjang lereng, karena makin berkurangnya daya serap tanah. Hal ini menyebabkan tanah di lereng gunung menjadi gersang dan kerdil. Apabila kejadiannya semakin parah, air yang mengalir dari lereng gunung tanpa rintangan, maka menimbulkan banjir, banjir ini akan menghanyutkan lapisan humus pada permukaan tanah.

Dari uraian di atas nampak bahwa penebangan hutan dapat menciptakan “lingkaran setan”. Makin banyak pohon yang ditebang, maka semakin besar perubahan ekstrim iklim mikro, sehingga makin sukar tumbuhan akan hidup.

Itulah sedikit pembahasaan tentang dasar2 ilmu lingkungan hidup. semoga tulisan yg saya lampirkan ini dapat di gunakan/ bermanfaat bagi teman-teman.
Apabila ada kekurangan dan kesalahan mohon di maklumi dan di maafkan.. GBU

iklan

 

Copyright © ILMU TEKNIK. All rights reserved. Published By Kaizen Template CB Blogger & Templateism.com