Tampilkan postingan dengan label ilmu pengetahuan teknik pengecoran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu pengetahuan teknik pengecoran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2015

High Pressure Die Casting

High Pressure Die Casting 



 Sejarah Perkembangan High Pressure Die Casting 
    Proses pengecoran merupakan metoda tertua dalam pembuatan produk logam. Pada awalnya proses pengecoran (masih digunakan hingga sekarang), cetakan atau pembentuk dipecahkan atau dirusak setelah pembekuan agar produk dapat dikeluarkan dari cetakan. Penggunaan cetakan permanen yang dapat memproduksi jumlah yang tidak terbatas tanpa merusak cetakan merupakan salah satu alternatif pemecahan.

    Pada abad pertengahan para pengrajin menggunakan cetakan besi untuk memproduksi perkakas.
Informasi tentang revolusi dibidang pengecoran terjadi pada saat Johannes Gutenberg mengembangkan sebuah metoda untuk membuat tipe penggerak dengan produksi massal dengan cetakan logam permanen. Teknik ini terus mengalami perkembangan. Pada akhir abad 19, proses pengecoran dikembangkan dengan cara menginjeksikan logam kedalam cetakan (metal dies) dengan menggunakan tekanan. Perkembangan ini mencapai puncaknya ketika Ottmar Mergantler membuat mesin linotype.

   H. H. Doehler diberikan penghargaan untuk mesin produksi die casting (Doehler, 1910) yang memproduksi komponen logam dengan volume tinggi, data diagram dengan paten 973,483.
    Pada awalnya hanya paduan Zinc yang digunakan pada die casting, namun permintaan akan logam lain memicu pengembangan material die dan variasi proses. Tahun 1915, Aluminium digunakan pada die casting dengan jumlah banyak. 
    Pengembangan berlanjut selama berabad-abad membawa peningkatan kemampuan proses dan integritas komponen die casting.



Konvensional High Pressure Die Casting
    Konvensional die cast secara tradisional hanya digunakan untuk memproduksi komponen-komponen kecil namun dari penelitian sebelumnya membuktikan teknik ini juga digunakan untuk memproduksi komponen-komponen besar seperti kerangka pintu mobil atau housing transmisi. Konvensional die cast juga dapat digunakan untuk berbagai sistem paduan dengan titik lebur rendah termasuk aluminium, zinc, magnesium, timah hitam, dan perunggu (Fredriksson dan Akerlind, 2006). Pada prinsipnya HPDC adalah mendorong logam cair pada shot tube ke dalam cetakan dengan tekanan, tekanan ini dapat mencapai 100 MPa.

Konstruksi Cetakan (Die Construction)
    Cetakan atau perkakas die casting dibuat dari paduan tool steel terdiri dari dua bagian, fixed die half atau cover half, dan ejector die half, untuk mengeluarkan benda cor. Pada cetakan modern mempunyai penggerak luncur, inti atau potongan-potongan untuk membuat lubang, ulir dan bentuk lain yang diinginkan dalam pengecoran. 
    Lubang saluran turun pada fixed die half merupakan tempat lewatnya logam cair sebelum memasuki cetakan dan mengisi rongga cetakan. Ejector half biasanya terdiri dari saluran dan pintu masuk (inlet) yang mengalirkan logam cair ke rongga cetakan. 
    Pin pengunci berfungsi untuk mengamankan kedua bagian, membantu dalam mengeluarkan benda cor, dan membuka cairan pendingin dan pelumas.

    Saat cetakan ditutup, kedua bagian cetakan dikunci dan disatukan dengan tekanan mesin hidrolik. Permukaan dimana ejector dan fixed half disatukan disebut "die parting line." Total luas permukaan area proyeksi benda cor diukur pada die parting line, dan tekanan yang dibutuhkan mesin untuk menginjeksi logam ke rongga cetakan menentukan besar gaya cekam mesin.

Pada High Pressure Die Casting terdapat empat jenis die (NADCA, 2004):

1. Single cavity untuk produksi satu komponen (gambar 3a)

2. Multiple cavity untuk produksi sejumlah komponen yang identik

3. Unit die untuk produksi komponen dengan bentuk yang berbeda pada satu waktu

4. Die kombinasi untuk menghasilkan beberapa part yang berbeda untuk sebuah rakitan.


Itu sedikit ulasan dari saya tentang High Pressure Die Casting.terimakasih telah mengunjungi blog ini. Semoga dapat bermanfaat buat teman dan dapat menjadi acuan untuk mencapai sukses kedepannya. Apabila terdapat kesalahan dalam tulisan ini. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Apabila ada kritik dan saran, anda dapat melampirkannya di bawah ini. 

________________________SALAM SUKSES________________________ 

Trimakasih GBU

High Integrity Proces Die Casting

High Integrity Proces Die Casting



    Proses die casting dengan integritas tinggi yang telah berhasil dikembangkan dan digunakan untuk produksi komersil dengan skala besar adalah vacuum die casting, squeeze casting dan semi-solid metalworking (Jorstad, 2003).

    Vacum die casting menggunakan pengontrol vakum untuk mengekstrak gas-gas dari saluran cetakan dan sistem saluran turun selama proses injeksi. Proses ini meminimalkan jumlah νentrained dan V'Lube.

    Squeeze casting dicirikan dengan penggunaan daerah pengisian yang luas.
    Pada proses vacum die casting dirancang untuk meminimalkan jumlah νentrained dan V'Lube dengan mekanisme yang berbeda. 
    Pengisian secara planar membuat gas-gas lepas dari cetakan melalui ventilasi yang tetap terbuka selama injeksi logam cair.
    Daerah pengisian yang luas membuat tekanan dapat dipertahankan selama pembekuan, mengurangi besaran V
    Porositas akibat gas yang terjebak dan penyusutan selama pembekuan dapat berkurang dengan squeeze casting.
    Pengerjaan logam semi-solid adalah
Proses yang paling rumit pada proses high integrity die casting. 
    Selama proses campuran setengah solid dan setengah liquid diinjeksi ke dalam saluran cetakan. Pengisian secara planar meminimalkan gas yang terjebak seperti pada proses squeeze casting.
    Penyusutan selama pembekuan menjadi sangat berkurang karena logam yang diinjeksi telah berbentuk padat.
    Dengan mengurangi porositas struktur mikro yang unik dibentuk selama proses pengerjaan logam dengan sifat mekanis lebih baik dibanding proses die casting biasa.


Itu sedikit ulasan dari saya tentang High Integrity Proces Die Casting.terimakasih telah mengunjungi blog ini. Semoga dapat bermanfaat buat teman dan dapat menjadi acuan untuk mencapai sukses kedepannya. Apabila terdapat kesalahan dalam tulisan ini. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Apabila ada kritik dan saran, anda dapat melampirkannya di bawah ini. 

________________________SALAM SUKSES________________________ 

Trimakasih GBU

Die Casting (Teknik Pengecoran)

Die Casting




      Die Casting adalah proses pencetakan suatu logam cair untuk membuat suatu produk atau part.
     Teknologi Die Casting sendiri telah ditemukan manusia akhir abad 3000 – 4000 SM. yaitu dengan menggunakan pematrian paduan timbal-timah.


     Pengecoran aluminium memiliki peranan penting didalam perkembangan industri aluminium.
     Produk hasil cor alumunium yang pertama adalah peralatan rumah tangga dan komponen-komponen dekorasi.
     Die Casting dapat berupa casting ingot atau casting bentuk (Shape Casting). 
    Die casting sendiri terdiri dari beberapa macam yang memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri. Industri memakai proses Die Casting karena memiliki keunggulan :
  •      Die casting dapat dipakai untuk membuat bentuk kompleks, baik luar maupun dalam yang tidak dapat dilakukan oleh proses permesinan. 
  • Beberapa proses casting mampu menghasilkan produk yang bersambung tanpa melakukan proses lanjutan.
  • Die Casting dapat dipakai untuk menghasilkan benda yang berdimensi kecil maupun besar.
  • Beberapa metode casting cocok untuk produksi massal. 

Perbandingan Die Casting dengan proses pengecoran lainnya.

Die casting vs. plastic molding - Die casting menghasilkan komponen yang lebih kuat dengan toleransi yang hampir sama dengan kestabilan dan umur pakai lebih lama. Komponen dari pengecoran lebih tahan terhadap temperatur ekstrem dan sifat listrik paling baik..


  1. Die casting vs. sand casting - Die casting dapat memproduksi komponen tipis, ukuran yang tepat dan permukaan yang halus. Waktu produksi cepat dengan upah buruh per casting lebih rendah. Biaya untuk finishing juga rendah.
  2. Die casting vs. permanent mold – mempunyai kelebihan yang sama dengan permanent moulding.
  3. Die casting vs. forging - Die casting dapat membuat komponen dengan bentuk kompleks, toleransi ketat, dinding tipis dan biaya finishing rendah. Lubang dengan inti tidak terdapat pada forging.
  4. Die casting vs. stamping - Die casting dapat membuat komponen dengan ketebalan yang bervariasi.
  5. Die casting vs. screw machine products - Die casting dapat membuat komponen dengan bentuk yang sulit atau hampir tidak mungkin dari batangan logam dengan tanpa penyetingan perkakas. Proses die casting lebih sedikit operasi dan bahan yang terbuang.

Itu sedikit  ulasan dari saya tentang  Die Casting Dan Perbandingannya Terhadap Pengecoran Lain.terimakasih telah mengunjungi blog ini. Semoga dapat bermanfaat buat teman dan dapat menjadi acuan untuk mencapai sukses kedepannya.  Apabila terdapat kesalahan dalam tulisan ini. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Apabila ada kritik dan saran, anda dapat melampirkannya di bawah ini.

________________________SALAM SUKSES________________________
Trimakasih GBU

Senin, 18 Mei 2015

SILABUS TEKNIK PENGECORAN


SILABUS TEKNIK PENGECORAN



1. Tujuan
Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan sifat logam teknik dan atribut produk, serta fundamental pengecoran logam dan proses pengecoran cetakan pasir / ekspendabel; meliputi dalam hal  : konsep proses, analisis teknik, bahan awal,  peralatan bentukan / pencetakan, pertinbangan rancangan, praktek pembuatan job pilihan, penerapan produk dan pemeriksaan, serta penyelesaian akhir. Perkuliahan ini juga mengkaji hal-hal perkembangan pemprosesan bahan dan produk pada SMK dan industri di Indonesia saat ini dan untuk mendatang.

2. Deskripsi isi
Dalam perkuliahan ini, dibahas sifat logam teknik, atribut produk coran dan macam bahan teknik; serta overview teknologi pengecoran, serta fundamental pengecoran logam dan proses pengecoran cetakan pasir / ekspendabel. Dalam hal   konsep proses : definisi,sifat bahan dan produk; analisis teknik, bahan awal,  peralatan bentukan / pencetakan, pertinbangan rancangan, praktek pembuatan job pilihan, penerapan produk dan pemeriksaan, serta penyelesaian akhir. Perkuliahan ini juga mengkaji hal-hal perkembangan pemprosesan bahan dan produk pada pembelajaran dan pelatihan & produksi  saat ini dan inovasi / inpropment untuk pemenuhan   kebutuhan mendatang.

3. Pendekatan pembelajaran :
Ekspotori dan inkuiri, serta praktek pilihan
-Metode : Ceramah, tanya jawab, penyajian, diskusi, tampil, praktek demontrasi   dan eksperimen, serta observasi langsung & pemecahan masalah.
- Tugas   : Rangkuman diktat; tes harian dengan tanya jawab; tampil tulis,lisan, dan makna; laporan buku dan internet; serta laporan & makalah  praktek dan industri.
- Media     : OHP,LCD/ power poit dan bengkel praktek.
4. Evaluasi
  • Kehadiran
  • Keaktifan dan kreatif tampil dan interaktif
  • Penyajian dan pemecahan masalah
  • Kedisiplinan dan sikap kerja
  • Unjuk kerja dan hasil kerja
  • Laporan dan diskusi
  • Tugas-tugas terstruktur
  • UTS
  • UAS

5. Rincian materi perkuliahan tiap pertemuan ( teori dan praktek )
Pertemuan 1 : Sistem dan rencana perkuliahan; serta tinjauan system manufaktur dan produski untuk proses pengecoran.
Pertemuan 2 :  Sifat dan macam  logam pengecoram serta atribut produk coran.
Pertemuan 3  : Overview teknologi pengecoran logam
Pertemuan 4   : Peleburan  logam coran.
Pertemuan 5 :  Tungku peleburan logam coran
Pertemuan 6 :  Penuangan dan dan perlatan pencetakan pengecoran
Pertemuan 7 :  Pempadatan logam tuang.
Pertemuan 8 : Pendinginan leburan logam tuangan coran.
Pertemuan 9 : UTS
Pertemuan 10 : Proses pengecoran cetakan pasir / ekspendebel : pasir cetak.
Pertemuan 11 : Proses pengecoran cetakan pasir : pola tetap cetakan coran
Pertemuan 12 : Proses pengecoran cetakan pasir : pencetakan coran,system saluran dan atau inti / chill, cetakan.
 Pertemuan 13 : Proses pengecoran cetakan pasir  : pola habis cetakan coran.
Pertemuan 14: Proses pengecoran cetakan pasir lain : shell molding.
Pertemuan 15 : Proses pengecoran cetakan pasir lain : pencetakan vacuum.
Pertemuan 16 : Proses pengecoran invesment
Pertemuan 17 : Proses pengecoran cetakan keramik dan cetakan plester..
Pertemuan  18 : UAS

  1. Daftar Buku
Buku utama :
Mikell P. Groover. ( 2002 ). Fundamentals of Modern Manufacturing;  New York,  John Wiley & Sons.
William F.Smith. ( 1987). Prinsip of Materials Science and Engineering; New York, McGraw-Hill.
 Serope Kalpakjian, Steven R Schmid. ( 2003 ). Manufacturing Processes for Engineering Materials. New Jersey. Pretice Hill.
R.K. Jain, S.C. Gupta. (1981 ). Production Technology; Delhi, Khanna Publishers.
B.H. Amstead, Cs. ( 1987 ). Manufacturing Processes; New York, John  Wily & Sons.
Referensi :
John A. Schey. ( 1981 ) Introduction to Manufacturing Processes; New York, McGraw-Hill.
 Tata Surdia . Teknik Pengecoran Logam. Bandung, Departemen Mesin ITB
https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=838732079249712160&bpli=1&pli=1#allposts
http://id.scribd.com/doc/52804918/MAKALAH-Teknik-Pengecoran-Logam#scribd

PENGECORAN LOGAM & SEJARAH PENGECORAN LOGAM



PENGECORAN LOGAM


Kompetensi              :  Menguasai ketrampilan pembentukan material melalui proses pengecoran
Sub Kompetensi       :  Menguasai pembentukan komponen dari aluminiun melalui pengecoran langsung

DASAR TEORI  :
Pengecoran logam adalah proses pembuatan benda dengan mencairkan logam dan menuangkan ke dalam rongga cetakan. Proses ini dapat digunakan untuk membuat benda-benda dengan bentuk rumit. Benda berlubang yang sangat besar yang sangat sulit atau sangat mahal jika dibuat dengan metode lain, dapat diproduksi masal secara ekonomis menggunakan teknik pengecoran yang tepat.
Pengecoran logam dapat dilakukan untuk bermacam-macam logam seperti, besi, baja paduan tembaga (perunggu, kuningan, perunggu aluminium dan lain sebagainya), paduan ringan (paduan aluminium, paduan magnesium, dan sebagainya), serta paduan lain, semisal paduan seng, monel (paduan nikel dengan sedikit tembaga), hasteloy (paduan yang mengandung molibdenum, khrom, dan silikon), dan sebagainya.


Gambar 7. Proses pembuatan benda coran.

Untuk membuat coran harus dilakukan proses-proses seperti: pencairan logam, membuat cetakan, menuang, membongkar, membersihkan dan memeriksa coran (gambar 7). Pencairan logam dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara, misal dengan tanur induksi, kupola, atau lainnya. Cetakan biasanya dibuat dengan memadatkan pasir yang diperoleh dari alam atau pasir buatan yang mengandung tanah lempung. Cetakan pasir mudah dibuat dan tidak mahal asal dipakai pasir yang sesuai. Cetakan dapat juga terbuat dari logam, biasanya besi dan digunakan untuk mengecor logam-logam yang titik leburnya di bawah titik lebur besi.
Pada pengecoran logam, dibutuhkan pola yang merupakan tiruan dari benda yang hendak dibuat dengan pengecoran. Pola dapat terbuat dari logam, kayu, stereofoam, lilin, dan sebagainya. Pola mempunyai ukuran sedikit lebih besar dari ukuran benda yang akan dibuat dengan maksud untuk mengantisipasi penyusutan selama pendinginan dan pengerjaan finishing setelah pengecoran. Selain itu, pada pola juga dibuat kemiringan pada sisinya supaya memudahkan pengangkatan pola dari pasir cetak.
Cetakan adalah rongga atau ruang di dalam pasir cetak yang akan diisi dengan logam cair. Pembuatan cetakan dari pasir cetak dilakukan pada sebuah rangka cetak. Cetakan terdiri dari kup dan drag. Kup adalah cetakan yang terletak di atas dan drag adalah cetakan yang terletak di bawah. Hal yang perlu diperhatikan pada kup dan drag adalah penentuan permukaan pisah yang tepat.


Gambar 8. Proses pembuatan cetakan.

Rangka cetak yang dapat terbuat dari kayu ataupun logam adalah tempat untuk memadatkan pasir cetak yang yang sebelumnya telah diletakkan pola di dalamnya. Pada proses pengecoran dibutuhkan dua buah rangka cetak yaitu rangka cetak untuk kup dan rangka cetak untuk drag. Proses pembuatan cetakan dari pasir dengan tangan dapat dilihat pada gambar 8.

 SEJARAH PENGECORAN LOGAM 

Coran dibuat dari logam yang dicairkan, dituang ke dalam cetakan,kemudian di biarkan mendingin dan membeku. Oleh karena itu sejarahpengecoran dimulai ketikaorang mengetahui bagaimana mencairkan logam dan bagaimanamembuat cetakan.Hal itu terjadi kira-kira tahun 4.000 SM, sedangkan tahun yang lebihtepat tidak diketahui orang.Awal penggunaan logam oleh orang ialah ketika orang membuatperhiasan dariemas atau perak tempaan, dan kemudian membuat senjata atau matabajak denganmenempa tembaga, hal itu di mungkinkan karena logam-logam initerdapat di alamdalam keadaan murni, sehingga dengan mudah orang dapatmenempanya.Kemudian secara kebetulan orang menemukan tembaga mencair,selanjutnyamengetahui cara untuk menuang logam cair ke dalam cetakan,dengan demikian untukpertama kalinya orang dapat membuat coran yang berbentuk rumit,umpamanya perabotrumah, perhiasan atau hiasan makan. Coran tersebut dibuat dariperunggu yaitusuatu paduan tembaga, timah dan timbal yang titik cairnya lebihrendah dari titikcair tembaga.Pengecoran perunggu dilakukan pertama di Mesopotamia kira-kira3.000 tahun SM,teknik ini di teruskan ke Asia Tengah, India, China. Penerusan ke Chinakira-kira 2.000 tahun SM, dan dalam zaman China kuno semasa Yin,yaitu kira-kira1.500-1.000 tahun SM. Pada masa itu tangki-tangki besar yang halusbuatannya dibuat dengan jalanpengecoran.

Selasa, 07 April 2015

Struktur baja PERENCANAAN GORDING

PERENCANAAN GORDING
PENDAHULUAN


1.1    Deskripsi Struktur
           Baja merupakan salah satu bahan bangunan yang unsur utamanya terdiri dari besi. Baja ditemukan ketika dilakukan penempaan dan pemanasan yang menyebabkan tercampurnya besi dengan bahan karbon pada proses pembakaran, sehingga membentuk baja yang mempunyai kekuatan yang lebih besar dari pada besi.
           Bila dibandingkan dengan bahan konstruksi lainnya, baja lebih banyak memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak terdapat pada bahan-bahan konstruksi lain. Disamping kekuatannya yang besar untuk menahan kekuatan tarik dan kekuatan tekan tanpa membutuhkan banyak volume, baja juga mempunyai sifat-sifat lain yang menguntungkan sehingga menjadikannya sebagai salah satu material yang umum dipakai.
Sifat-sifat baja antara lain :
a.       Kekuatan tinggi
Kekuatan baja bisa dinyatakan dengan kekuatan tegangan leleh  fy atau kekuatan tarik  fu. Mengingat baja mempunyai kekuatan volume lebih tinggi dibanding dengan bahan lain, hal ini memungkinkan perencanaan sebuah konstruksi baja bisa mempunyai beban mati yang lebih kecil untuk bentang yang lebih panjang, sehingga struktur lebih ringan dan efektif.
b.      Kemudahan pemasangan
Komponen-komponen baja biasanya mempunyai bentuk standar serta mudah diperoleh dimana saja, sehingga satu-satunya kegiatan yang dilakukan dilapangan adalah pemasangan bagian-bagian yang telah disiapkan.
c.       Keseragaman
Baja dibuat dalam kondisi yang sudah diatur (fabrikasi) sehingga mutunya seragam.


d.      Daktilitas  ( keliatan )
Daktilitas adalah sifat dari baja yang dapat mengalami deformasi yang besar dibawah pengaruh tegangan tarik tanpa hancur atau putus. Daktilitas mampu mencegah robohnya bangunan secara tiba-tiba.
e.       Modulus elastisitas besar
Dengan modulus yang besar, struktur akan cukup kaku sehingga dapat memberikan kenyamanan bagi pemakai. Jika dibandingkan dengan bahan yang lain, untuk regangan yang sama baja akan mengalami tegangan yang lebih besar sehingga kekuatannya lebih optimal.

1.1.1     Bentuk & Dimensi Struktur
Pada tugas besar Konstruksi Baja I ini struktur yang diberikan berupa bangunan berbentuk persegi panjang yang terbuat dari baja dengan mutu BJ-41. Bangunan ini terdiri dari dua lantai dengan tinggi lantainya yaitu 4.5 m. Jenis atap yang digunakan pada struktur ini adalah genteng dengan sudut kemiringan 350 , dan jarak maksimum tiap gording adalah 1,1 m

1.1.2     Fungsi Struktur
Struktur pada tugas besar Konstruksi Baja I ini berfungsi sebagai Kantor.

1.1.3     Spesifikasi Material
Spesifikasi material terdiri dari :
a.       Sifat mekanis baja
Sifat mekanis baja struktur yang digunakan dalam perencanaan harus memenuhi persyaratan minimum pada tabel berikut :
Jenis Baja
Tegangan putus
Minimum fu
(Mpa)
Tegangan Leleh
Minimum fy
(Mpa)
Peregangan
Minimum
(%)
BJ 34
340
210
22
BJ 37
370
240
20
BJ 41
410
250
18
BJ 50
500
290
16
BJ 55
550
410
13

v   Tegangan Leleh
Tegangan leleh untuk perencanaan ( fy ) tidak boleh diambil melebihi nilai yang diberikan pada tabel sifat mekanisme baja struktural.
v   Tegangan Putus
Tegangan putus untuk perencanaan ( fu ) tidak boleh diambil melebihi nilai yang diberikan pada tabel sifat mekanisme baja struktural.
v   Sifat-sifat mekanis lainnya
Sifat-sifat mekanisme lainnya baja struktural untuk perencanaan adalah sebagai berikut :
Modulus elastis             :   E   =  200.000  Mpa
Modulus geser              :   G   =  80.000    Mpa
Nisbah poisson             :   m   =   0,3
Koefisien pemuaian      :   a   =  12 . 10-6 / oC
b.      Baja Struktural
o      Syarat penerimaan baja
Laporan uji material baja dipabrik yang disahkan oleh lembaga yang berwenang dapat dianggap sebagai bukti yang cukup untuk memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam standar ini.
o      Baja yang tidak dapat teridentifikasi
Baja yang tidak dapat teridentifikasi boleh digunakan selama memenuhi ketentuan berikut ini :
1.      Bebas dari cacat permukaan
2.      Sifat fisik material dan kemudahan untuk dilas tidak mengurangi kekuatan dan kemampuan layan strukturnya.
3.      Ditest sesuai ketentuan yang berlaku. Tegangan leleh ( fy ) untuk perencanaan tidak boleh lebih dari 170 mpa, sedangkan tegangan putusnya ( fu ) tidak boleh diambil lebih dari 300 mpa.
c.       Alat sambung
·               Baut, mur dan ring
·               Alat sambung mutu tinggi
·               Las
·               Penghubung geser jenis paku yang dilas
·               Baut angker

1.2    Peraturan yang Digunakan

Peraturan yang digunakan dalam tugas besar Konstruksi Baja I ini adalah peraturan standar baja. Standar ini meliputi persyaratan-persyaratan umum serta ketentuan-ketentuan teknis perencanaan dan pelaksanaan struktur baja untuk bangunan gedung, atau struktur lainnya yang mempunyai kesamaan karakter dengan struktur gedung Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung.

BAB II
PERENCANAAN GORDING

2.1 ANALISA PEMBEBANAN
  • Jumlah gording
Jumlah gording           =  Sisi miring (rafter) / Jarak antar gording
                                   = 5,52/1,2
                                   =  4,6 ~ 5
  • Jarak antar gording (z)
Jarak antar gording     = Rafter / Jumlah gording
                                   = 5,52/5
                                                   = 1,104 m
2.1.1 Beban mati (qd)
  • Berat profil gording (profil C) = qp = 6,13 kg/m
  • Berat cover (berat atap) = qc = 10 kg/m2
= qco kg/m2 x jarak antar gording (z)
= 10 kg/m2 x 1,104 m
= 11,04 kg/m
  • Total beban mati (qd)
= (qp + qco) x 1,05
= 18,0285 kg/m
  • Momen di tengah bentang
Kemiringan atap 18o
    • Arah x, Mdx   = 1/8.qd cos x. Lk2
= 1/8. 18,0285 cos 18 . 42
= 34,292 kgm
    • Arah y, Mdy   = 1/8. qd sin x. Lk2
= 1/8. 18,0285 sin 18 . 42
= 11,142 kg m

2.1.2 Beban Hidup
  • Beban orang terpusat, p = 100 kg/m2
    • Arah X, Mox   = 1/4. P. cos x. Lk
= 1/4. 100. cos 18 . 4
=  95,106 kg
    • Arah Y, Moy   = 1/4. P. cos x. Lk
= 1/4. 100 . sin 18 . 4
=  30,902 kg 


iklan

 

Copyright © ILMU TEKNIK. All rights reserved. Published By Kaizen Template CB Blogger & Templateism.com