Tampilkan postingan dengan label ilmu teknik mesin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu teknik mesin. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2015

PENGETAHUAN BAHAN TEKNIK

PENGETAHUAN BAHAN TEKNIK
PEMBUATAN BESI KASAR
ROSES PEMBUATAN BAJA
PEMBENTUKAN BAJA FROFIL


KEKUATAN BAHAN
 PENGUJIAN BAHAN






Sifat – Sifat Material Teknik

Sifat – Sifat Material Teknik

Secara garis besar material mempunyai sifat-sifat yang mencirikannya, pada bidang teknik mesin umumnya sifat tersebut dibagi menjadi tiga sifat. Sifat –sifat itu akan mendasari dalam pemilihan material, sifat tersebut adalah: 
  1. Sifat mekanik
  2. Sifat fisik
  3. Sifat teknologi
Dibawah ini akan dijelaskan secara terperinci tentang sifat-sifat material tersebut

  • Sifat Mekanik
Sifat mekanik material, merupakan salah satu faktor terpenting yang mendasari pemilihan bahan dalam suatu perancangan. Sifat mekanik dapat diartikan sebagai respon atau perilaku material terhadap pembebanan yang diberikan, dapat berupa gaya, torsi atau gabungan keduanya. Dalam prakteknya pembebanan pada material terbagi dua yaitu beban statik dan beban dinamik. Perbedaan antara keduanya hanya pada fungsi waktu dimana beban statik tidak dipengaruhi oleh fungsi waktu sedangkan beban dinamik dipengaruhi oleh fungsi waktu.

Untuk mendapatkan sifat mekanik material, biasanya dilakukan pengujian mekanik. Pengujian mekanik pada dasarnya bersifat merusak (destructive test), dari pengujian tersebut akan dihasilkan kurva atau data yang mencirikan keadaan dari material tersebut. 

Setiap material yang diuji dibuat dalam bentuk sampel kecil atau spesimen. Spesimen pengujian dapat mewakili seluruh material apabila berasal dari jenis, komposisi dan perlakuan yang sama. Pengujian yang tepat hanya didapatkan pada material uji yang memenuhi aspek ketepatan pengukuran, kemampuan mesin, kualitas atau jumlah cacat pada material dan ketelitian dalam membuat spesimen. Sifat mekanik tersebut meliputi antara lain: kekuatan tarik, ketangguhan, kelenturan, keuletan, kekerasan, ketahanan aus, kekuatan impak, kekuatan mulur, kekeuatan leleh dan sebagainya.

Sifar-sifat mekanik material yang perlu diperhatikan:

  • Tegangan yaitu gaya diserap oleh material selama berdeformasi persatuan luas.
  • Regangan yaitu besar deformasi persatuan luas.
  • Modulus elastisitas yang menunjukkan ukuran kekuatan material.
  • Kekuatan yaitu besarnya tegangan untuk mendeformasi material atau kemampuan material untuk menahan deformasi.
  • Kekuatan luluh yaitu besarnya tegangan yang dibutuhkan untuk mendeformasi plastis.
  • Kekuatan tarik adalah kekuatan maksimum yang berdasarkan pada ukuran mula.
  • Keuletan yaitu besar deformasi plastis sampai terjadi patah.
  • Ketangguhan yaitu besar energi yang diperlukan sampai terjadi perpatahan.
  • Kekerasan yaitu kemampuan material menahan deformasi plastis lokal akibat penetrasi pada permukaan.
Sifat Fisik

Sifat penting yang kedua dalam pemilihan material adalah sifat fisik. Sifat fisik adalah kelakuan atau sifat-sifat material yang bukan disebabkan oleh pembebanan seperti pengaruh pemanasan, pendinginan dan pengaruh arus listrik yang lebih mengarah pada struktur material. Sifat fisik material antara lain : temperatur cair, konduktivitas panas dan panas spesifik.

Struktur material sangat erat hubungannya dengan sifat mekanik. Sifat mekanik dapat diatur dengan serangkaian proses perlakukan fisik. Dengan adanya perlakuan fisik akan membawa penyempurnaan dan pengembangan material bahkan penemuan material baru.

Sifat Teknologi 

Selanjutnya sifat yang sangat berperan dalam pemilihan material adalah sifat teknologi yaitu kemampuan material untuk dibentuk atau diproses. Produk dengan kekuatan tinggi dapat dibuat dibuat dengan proses pembentukan, misalnya dengan pengerolan atau penempaan. Produk dengan bentuk yang rumit dapat dibuat dengan proses pengecoran. Sifat-sifat teknologi diantaranya sifat mampu las, sifat mampu cor, sifat mampu mesin dan sifat mampu bentuk. Sifat material terdiri dari sifat mekanik yang merupakan sifat material terhadap pengaruh yang berasal dari luar serta sifat-sifat fisik yang ditentukan oleh komposisi yang dikandung oleh material itu sendiri.

Kekerasan

Kekerasan adalah ukuran ketahanan suatu material terhadap deformasi plastis lokal. Nilai kekerasan tersebut dihitung hanya pada tempat dilakukannya pengujian tersebut (lokal), sedangkan pada tempat lain bisa jadi kekerasan suatu material berbeda dengan tempat yang lainnya. Tetapi nilai kekerasan suatu material adalah homogen dan belum diperlakupanaskan secara teoritik akan sama untuk tiap-tiap titik.

Metoda Pengujian Kekerasan

Pengujian kekerasan sering sekali dilakukan karena mengetahui kekerasan suatu material maka (secara umum) juga dapat diketahui beberapa sifat mekanik lainnya, seperti kekuatan. Pada pengujian kekerasan dengan metoda penekanan, penekan kecil (identor) ditekankan pada permukaan bahan yang akan diuji dengan penekanan tertentu. Kedalaman atau hasil penekanan merupakan fungsi dari nilai kekerasan, makin lunak suatu bahan makin luas dan makin dalam akibat penekanan tersebut, dan makin rendah nilai kekerasannya.

Uji Tarik

Uji tarik banyak dilakukan untuk melengkapi informasi rancangan dasar kekuatan suatu bahan dan sebagai data pendukung bagi spesifikasi bahan. Pada uji tarik benda uji diberi beban gaya tarik sesumbu yang bertambah secara kontinu, bersamaan dengan itu dilakukan pengamatan mengenai perpanjang yang dialami benda uji dengan extensometer, 

Tegangan yang didapatkan dari kurva tegangan teoritik adalah tegangan yang membujur rata-rata dari pengujian tarik. Tegangan tersebut diperoleh dengan cara membagi beban dengan luas awal penampang lintang benda uji itu.


Karena tegangan dan regangan dipeoleh dengan cara membagi beban dan perpanjangan dengan faktor yang konstan, kurva beban – perpanjangan akan mempunyai bentuk yang sama seperti pada gambar 2.4. Kedua kurva sering dipergunakan.


Bentuk dan besaran pada kurva tegangan-regangan suatu logam tergantung pada komposisi, perlakukan panas, deformasi plastis yang pernah dialami, laju regangan, temperatur, dan keadaan tegangan yang menentukan selama pengujian. Parameter-parameter yang digunakan untuk menggambarkan kurva tegangan-regangan logam adalah kekuatan tarik, kekuatan luluh atau titik luluh, persen perpanjangan, dan pengurangan luas. Parameter pertama adalah parameter kekuatan, sedangkan yang kedua menyatakan keuletan bahan. 

Kekuatan Tarik

Kekuatan tarik atau kekuatan tarik maksimum (ultimate tensile strenght), adalah nilai yang paling sering dituliskan sebagai hasil suatu uji tarik, tetapi pada kenyataannya nilai tersebut kurang bersifat mendasar dalam kaitannya dengan kekuatan material. Untuk logam ulet, kekuatan tariknya harus dikaitkan dengan beban lmaksimum, diman logam dapat menahan beban sesumbu untuk keadaan yang sangat terbatas. Pada tegangan yang lebih komplek, kaitan nilai tersebut dengan kekuatan logam, kecil sekali kegunaannya. Kecenderungan yang banyak ditemui adalah, mendasarkan rancangan statis logam ulet pada kekuatan luluhnya. Tetapi karena jauh lebih praktis menggunakan kekuatan tarik untuk menentukan kekuatan bahan, maka metode ini lebih banyak dipakai. Kekuatan tarik adalah besarnya beban maksimum dibagi dengan luas penampang lintang awal benda uji.

su = P maks /  Ao                                                              …………… 2.3

Korelasi emperis yang diperluas antar kekuatan tarik dengan sifat mekanik lainnya seperti kekerasan dan kekuatan lelah, sering dipergunakan. Hubungan tersebut hanya terbatas pada hasil penelitian beberapa jenis material. 

itulah sedikit penjelasan tentang Sifat - sifat matrial teknik. semoga bermanfaat buat teman2 yang mengunjaungi, thaks,, GBU

NON DESTRUCTIVE TEST ( UJi Kekerasan Matrial )

NON DESTRUCTIVE TEST

PENGUJIAN KEKERASAN

Pengujian Kekerasan adalah satu dari sekian banyak pengujian yang 
dipakai, karena dapat dilaksanakan pada benda uji yang kecil tanpa kesukaran 
mengenai spesifikasi.

Kekerasan (Hardness) adalah salah satu sifat mekanik (Mechanical 
properties) dari suatu material. Kekerasan suatu material harus diketahui khususnya untuk material yang dalam penggunaanya akan mangalami pergesekan (frictional force) dan dinilai dari ukuran sifat mekanis material yang diperoleh dari DEFORMASI PLASTIS (deformasi yang diberikan dan setelah dilepaskan, tidak kembali ke bentuk semula akibat indentasi oleh suatu menda sebagai alat uji. Dalam hal ini bidang keilmuan yang berperan penting mempelajarinya adalah Ilmu Bahan Teknik (Metallurgy Engineering). Mengapa diperlukan pengujian kekerasan? Di dalam aplikasi manufaktur, material terutama semata diuji untuk dua pertimbangan: yang manapun ke riset karakteristik suatu material baru dan juga sebagai suatu cek mutu untuk memastikan bahwa contoh material tersebut menemukan spesifikasi kualitas tertentu .

Penguian yang paling banyak dipakai adalah dengan menekankan penekan tertentu kepada benda uji dengan beban tertentu dan dengan mengukur ukuran bekas penekanan yang terbentuk diatasnya, cara ini dinamakan cara kekerasan dengan penekanan.

Kekerasan juga didefinisikan sebagai kemampuan suatu material untuk menahan beban identasi atau penetrasi (penekanan). Didunia teknik, umumnya pengujian kekerasan menggunakan 4 macam metode pengujian kekerasan, yakni :
  • Brinnel(HB/BHN)
  • Rockwell(HR/RHN)
  • Vikers(HV/VHN)
  • Micro Hardness (Namun jarang sekali dipakai-red) 


Sedangkan pengujian Rockwell cocok untuk semua material yang keras dan yang lunak, penggunaannya sederhana dan penekanannya dapat dilakukan dengan leluasa. Tabel di bawah menunjukkan bagaimana memilih skala rockwell.


Skala Penekan Beban Awal Utama Jumlah Skala Kekerasan
A
B
C
D
E
F
G
H
K
L
M
P
R
S
V
Kerucut Intan 120°
Bola Baja 1,588 mm (1/6”)
Kerucut Intan 120°
Kerucut Intan 120°
Bola Baja 3,175 mm (1/8”)
Bola Baja 1,588 mm (1/6”)
Bola Baja 1,588 mm (1/6”)
Bola Baja 3,175 mm (1/8”)
Bola Baja 3,175 mm (1/8”)
Bola Baja 6,35 mm (1/4”)
Bola Baja 6,35 mm (1/4”)
Bola Baja 6,35 mm (1/4”)
Bola Baja 12,7 mm (1/2”)
Bola Baja 12,7 mm (1/2”)
Bola Baja 12,7 mm (1/2”)
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
50
90
140
90
90
50
140
50
140
50
90
140
50
90
140
60
100
150
100
100
60
150
60
150
60
100
150
60
100
150
100
130
100
100
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130

Pengujian kekerasan Brinell merupakan pengujian standard secara industri, tetapi
karena penekannya terbuat dari bola baja yang berukuran besar dan beban besar,
maka bahan lunak atau keras sekali tidak dapat diukur kekerasannya.


Pada Tabel ditunjukkan skala kekerasan A, B dan C adalah untuk bahan logam,
skala A dapat dipakai untuk bahan sangat keras seperti Karbida tungsen. Skala D
dan di bawahnya dipakai untuk batu gerinda sampai plastik.
Pengujian Rockwel superfisial mempergunakan beban yang ringan untuk
memperbaiki ketelitian dari penekan dengan cara penggunaan yang sama, juga
dapat mengukur kekerasan permukaan dari bahan yang dikeraskan kulitnya. 

Pemilihan masing-masing skala (metode pengujian) tergantung pada :
  1. Permukaan material 
  2. Jenis dan dimensi material 
  3. Jenis data yang diinginkan 
  4. Ketersedian alat uji 
Pengujian Kekerasan dengan metode : Brinnel, Rockwell dan Vickers menggunakan:
Alat/ Pengujian
Benda Uji (test speciment)  - yang bertujuan untuk Memahami cara Menguji Kekerasan logam dengan ketiga

Metode tersebut




Dalam pengujian kekerasan seperti pada pengujian statik lainnya, diukur 
ketahanan terhadap deformasi. Tetapi ukuran penekan, beban dan ukuran 
penekanan, derajat pengerasan regangan, berbeda. Jadi pertama korelasi antara 
kekerasan yang diperoleh dengan berbagai cara pengujian kekerasan menjadi 

permasalahan. 
Tidak ada cara lain kecuali mendapatkan hubungan tersebut secara eksperimen, 
jadi kekerasan yang diperoleh dengan berbagai cara ditulis sebagai tabel konversi 
kekerasan. Tetapi hal yang diutarakan di atas berbeda menurut bahan, oleh karena 
itu untuk baja atau paduan tembaga perlu memakai tabel yang berlainan sesuai 
dengan paduan mesing-masing. 

Sejumlah data tersedia berkenaan dengan hubungan antara kekerasan dan 
kekuatan tarik atau kekuatan lelah. Hubungan ini sangan memudahkan untuk 
mengetahui kekuatan bahan dengan pengujian sederhana dari kekerasan. Tetapi 
karena hubungan itu memuat banyak faktor variabel, perlu berhati-hati dalam 
penggunaannya. Sebagai tambahan dalam penggunaan bagi bahan yang sama jenisnya, disarankan untuk memperhatikan metalografinya.



itulah sediki ulasan tentang NON DESTRUCTIVE TEST semoga bermanfaat buat teman2. thanks..

Senin, 29 Juni 2015

Proses Gurdi (drilling)

Proses Gurdi (drilling)

Proses gurdi merupakan proses pembuatan lubang pada sebuah objek dengan menekankan sebuah gurdi berputar kepadanya. Proses pembuatan lubang ini tidak hanya melalui proses gurdi namun dapat juga dilakukan dengan proses lain seperti mempons, pengelasan, meluaskan lubang, dan lain-lain. 

Pahat gurdi mempunyai dua mata potong dan melakukan gerak potong berupa putaran poros utama mesin gurdi. Putaran tersebut dapat dipilih dari beberapa tingkatan putaran yang tersedia pada mesin gurdi, atau ditetapkan sekehendak bila sistim transmisi putaran mesin gurdi merupakan sistim berkesinambungan (stepless spindle drive). 

  • Pengelompokan Mesin Gurdi

Mesin gurdi dapat dikelompokkan berdasarkan konstruksinya :
  1.  Mesin gurdi portabel / mampu bawa
  2. Mesin penggurdi teliti :
- pasangan bangku
- pasangan lantai

  • Mesin penggurdi radial
  • Mesin penggurdi tegak :
- tugas ringan
- tugas berat
  • mesin penggurdi kelompok
  • Mesin penggurdi spindel jamak :
- unit tunggal 
- jenis jalan
  • Mesin penggurdi turet
  • Mesin penggurdi produksi otomatis :
- meja pengarah
- jenis jalan

  • Mesin penggurdi di lubang dalam. 

Beberapa proses yang dapat dilakukan pada mesin gurdi yaitu :

  1. Gurdi (drilling)
  2. Perluasan ujung lubang (counter boring)
  3. Penyerongan ujung lubang (counter sinking)
  4. Perluasan atau penghalusan lubang (roaming)
  5. Gurdi lubang dalam (gun drilling


Ada tiga jenis pahat dari mesin gurdi, yaitu :
  • Twist Drill 
Twist drill merupakan penggurdi dengan dua galur dan dua tepi potong.

gbr: Twist drill

      Gun Drill

            Ada dua jenis Gun Drill yaitu :

a. Bergalur lurus yang digunakan untuk penggurdian lubang yang dalam, yaitu penggurdi trepan yang tidak memiliki pusat mati dan meninggalkan inti pejal dari logam.
b. Penggurdi pistol pemotong pusat yang fungsinya hampir sama dengan penggurdi trepan. Penggurdi pistol ini mempunyai kecepatan potong yang lebih tinggi dari penggurdi puntir konvensional.
 A Gun Drill trepan,
               
 B. Gun Drill pemotongan

3.         Penggurdi Khusus
Penggurdi khusus ini digunakan untuk menggurdi lubang yang lebih besar yang tidak dapat dilakukan oleh penggurdi puntir ataupun oleh penggurdi pistol. Untuk menggurdi lubang besar dalam pipa atau logam lembaran, gurdi puntir tidak sesuai karena gurdi cendrung akan terbenam ke dalam benda kerja atau lubangnya terlalu besar untuk gurdi biasa. Lubang besar tersebut dipotong dengan pemotong lubang

Mesin perkakas yang digunakan untuk proses umum permesinan :

Mesin perkakas yang digunakan untuk  proses umum permesinan :


Proses

Mesin Perkakas

Definisi kecepatan, umpan, dan kedalaman potong



Bubut (turning)






Bor (drilling)





Frais

(milling)





Sekrap

(planning/ shaping)




Bubut (lathe)






Bor Tekan

(drill press)



Frais

(milling)





Sekrap

(planner/ shaper)

­       

Benda kerja berputar untuk gerak kecepatan.

­ Perkakas mengumpan paralel thd sumbu benda kerja.

­ Kedalaman potong adalah dalamnya penetrasi perkakas.


­ Benda kerja terpasang diam pada pemegang.

­ Perkakas berputar dan mengumpan paralel thd sumbu perkakas. Diameter mata bor menghasilkan diameter lubang.

­ Kedalaman potong adalah kedalaman lubang.


­ Perkakas berputar untuk gerak kecepatan.

­ Benda kerja mengumpan tegak lurus terhadap sumbu perkakas.

­ Kedalaman potong adalah dalamnya penetrasi perkakas.


­ Perkakas bertranslasi untuk gerak kecepatan.

­ Benda kerja mengumpan tegak lurus terhadap arah gerak perkakas.

­ Kedalaman potong adalah dalamnya penetrasi perkakas.





TEKNOLOGI PERKAKAS POTONG

Teknologi perkakas potong memiliki 2 (dua) aspek penting: Material Perkakas, dan Bentuk Geometris Perkakas.

Material dan bentuk geometris perkakas sangat berperan terhadap kemampuannya menghadapi beban/ gaya, temperatur, dan daya tahan akan cacat (wear) saat proses memesin.

  • Kegagalan perkakas potong pada proses Kegagalan fraktur (fracture failure). 

Jenis kegagalan ini terjadi ketika gaya potong pada titik potong menjadi tidak terkendali sehingga menyebabkan gagal fraktur (bentuk kasar) pada perkakas.
  • Kegagalan temperatur (temperature failure). 

Ini terjadi ketika temperatur sangat tinggi menyebabkan material perkakas menjadi lunak dan mengalami perubahan deformasi serta kehilangan ketajaman.
  • Kegagalan cacat gradual (gradual wear). 
Adalah kegagalan yang disebabkan berkurangnya ketajaman, menurunnya efisiensi pemotongan, gagalnya akselerasi, dan akhirnya perkakas cacat sama seperti yang terjadi pada kegagalan temperatur.

Ketika perkakas gagal saat pemotongan, ini sering menyebabkan kerusakan pada permukaan benda kerja. Kerusakan ini menyebabkan benda kerja dikerjakan ulang (rework) atau dibuang.

Beberapa interaksi mekanis yang dapat menyebabkan cacat pada perkakas :

  • Abrasi (abrasion). 
Karena partikel material benda kerja yang sangat keras sehingga dapat mengangkat/ membuang porsi kecil partikel perkakas.
  • Adhesi (adhesion). 
Ketika 2 (dua) logam bersentuhan dengan tekanan dan temperatur yang tinggi, gaya tarik menarik (adhesi) atau proses penggabungan terjadi diantara mereka. Kondisi ini terjadi antara geram (chip) dengan sudut geram (rake face) perkakas. Saat geram melalui perkakas partikel kecil perkakaspun akan terbawa sehingga permukaan perkakas menjadi rusak.
  • Diffusion (difusi). 
Difusi adalah proses pemindahan atom pada area kontak terbatas antara 2 (dua) material dalam hal ini antara geram (chip) dengan perkakas. Akibatnya permukaan perkakas kehilangan atom-atom yang seharusnya sebagai pengeras. Karena proses ini terus berlangsung menyebabkan perkakas semakin tidak berdaya terhadap abrasi atau adhesi.

  • Deformasi plastis (plastic deformation). 

Gaya potong dan temperatur yang tinggi pada proses pemotongan menyebabkan sisi potong perkakas mengalami deformasi plastis sehingga membuatnya lebih mudah terabrasi.

Persyaratan penting yang dibutuhkan dari material perkakas :
  • Toughness (kekuatan). 
Kekuatan adalah kemampuan sebuah material menyerap energi tanpa rusak. Umumnya karakteristik ini adalah kombinasi kekerasan (strength) dan keliatan (ductile).
  • Hot hardness (tetap keras dlm kondisi temperatur tinggi). 
Ini diperlukan karena perkakas beroperasi di lingkungan temperatur tinggi.
  • Wear resistance (tahan rusak). 
Kekerasan dibutuhkan utk menahan kerusakan karena abrasive, kondisi permukaan perkakas (makin halus berarti koefisien gesek makin rendah), sifat kimia dari perkakas dan benda kerja, cairan pendingin.

Itulah Mesin perkakas yang digunakan untuk  proses umum permesinan  yang dapat saya lampirkan mudah-mudahan bermanfaat buat teman-teman yang mengunjungi. Salam sukses.. gbu

TEORI MESIN LOGAM (METAL MACHINING)

TEORI MESIN LOGAM

(METAL MACHINING)


Proses permesinan (machining) :

Proses pembuatan (manufacture) dimana perkakas potong (cutting tool) digunakan untuk membentuk material dari bentuk dasar menjadi bentuk yang diinginkan.

Proses permesinan sangat penting ditinjau dari sisi komersial dan teknologi, karena :

  1. Permesinan dapat diterapkan/ diaplikasikan untuk bermacam variasi material kerja (syarat : benda padat yang dapat di mesin, misal : logam, plastik, komposit, keramik, dll).
  2. Permesinan dapat digunakan untuk bentuk dasar geometris seperti : permukaan mendatar, membuat lubang, bentuk silinder, dll. Dengan kombinasi beberapa operasi permesinan yang tepat (sequence) dapat menghasilkan bentuk dan variasi yang hampir tak terbatas untuk diproduksi.
  3. Permesinan dapat menghasilkan ukuran dengan toleransi sangat ketat yaitu kurang dari 0,005 mm (5 mm).
  4. Permesinan memungkinkan untuk menghasilkan permukaan yang demikian halus hingga kurang dari 0,0004 mm (0,4 mm).

Karena karakteristik di atas, umumnya proses permesinan dilakukan setelah proses pembentukan (manufacture) lainnya seperti : pengecoran atau deformasi.

Proses manufaktur lainnya menghasilkan bentuk–bentuk dasar benda, dan proses permesinan menyelesaikan bentuk akhir geometris, ukuran, dan finishing.

PROSES PENGERJAAN LOGAM MENGGUNAKAN MESIN PERKAKAS
Gambaran umum teknologi permesinan :

Permesinan tidak hanya satu proses, tetapi sebuah keluarga dari banyak proses-proses lainnya.
Pada dasarnya gerakan relatif operasi permesinan yang paling utama terdiri dari :

  • Gerakan primer yang disebut kecepatan (speed).
  • Gerakan sekunder yang disebut umpan (feed).

Jenis-jenis Dari Operasi Permesinan (secara umum) :
  • Bubut (turning)
  • Bor (drilling)
  • Frais (milling)
  • Mesin konvensional lainnya : sekrap (planing), gergaji (sawing), gerinda (grinding), dll.

Faktor Ekonomi Dalam Proses :
  1. Benda kerja harus sesuai dengan kebutuhan pada bahan, bentuk, ketelitian, ukuran dan mutu permukaan.
  2. Waktu pengerjaan harus sesingkat mungkin
  3. Biaya pembuatan serendah mungkin, meliputi :
  • Keausan pahat & mesin
  • Kebutuhan bahan
  • Daya yang dipakai
MESIN PERKAKAS (machine tools) :

Mesin perkakas digunakan untuk memegang benda kerja, posisi perkakas (tools) relatif terhadap benda kerja, dan memiliki daya untuk proses memesin berupa kecepatan, umpan, dan kedalaman potong sesuai yang direncanakan. Untuk mengendalikan perkakas, benda kerja, dan kondisi pemotongan, mesin perkakas didisain untuk dapat menghasilkan produk yang akurat dan presisi (dengan toleransi kurang dari 0,005 mm).

Kemampuan yang diinginkan dari Mesin Perkakas :

  1. Memegang dan menyangga benda kerja
  2. Memegang dan menyangga pahat
  3. Mengadakan olah gerak (translasi & rotasi) pada pahat atau benda kerja
  4. Mengumpan pahat atau benda kerja sesuai ketelitian yang diinginkan
Itulah TEORI MESIN LOGAM yang dapat saya lampirkan mudah-mudahan bermanfaat buat teman-teman yang mengunjungi. Salam sukses.. gbu

iklan

 

Copyright © ILMU TEKNIK. All rights reserved. Published By Kaizen Template CB Blogger & Templateism.com