Tampilkan postingan dengan label ilmu teknik sipil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu teknik sipil. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juli 2015

SUMBER AIR Dan JENIS SUMBER AIR

SUMBER AIR

  • Tamadun manusia tertumpu di sekitar kawasan yang mempunyai air.
Contohnya: Sungai Euphrates, Tigris, Nil, Wadi, Yang Tze, Ganges
  • Jika air tidak mencukupi, manusia merekacipta sistem pengairan yang canggih
Contohnya: Tamadun Inca di Banjaran Andes
  • Adakah air dunia mencukupi?
Tidak, khasnya di negara membangun

Sebabnya:
  1. Air dalam bentuk yang tidak boleh digunakan
  2. Kos untuk mendapatkan air terlalu mahal
  3. Air tercemar 
  • di antara 1900 – 1995, jumlah penduduk dunia bertambah 2 kali ganda, tetapi penggunaan air meningkat 6 kali ganda
  • walaupun sumber air dunia tidak berkurangan (kenapa?) air yang dapat digunakan dengan selamat berkurangan:
  • sebab-sebab:
  1. pencemaran sumber air
  2. pertambahan penduduk
  3. resiko perubahan iklim (contohnya: El-Nino)
  • 20% dari penduduk dunia kekurangan air minuman yang selamat
  • 50% dari penduduk dunia kekurangan kemudahan sanitasi
  • 50% penyakit di dunia tersebar melalui air
  • pencemaran air menyebabkan kematian 25 juta manusia setiap tahun
  • 70% permukaan buni diliputi air
  • air sentiasa bergerak, dalam bentuk wap air, cecair, dan ais
  • Bumi adalah sistem yang tertutup, tiada penambahan dan pengurangan jirim (matter)
  • Air yang ujud sekarang adalah juga air yang ujud berjuta-juta tahun dahulu
  • Air yang didapati adalah melalui kitaran air yang berlaku di seluruh bumi

  • 97 % air tidak boleh digunakan oleh manusia, cuma 0.3% yang boleh digunakan 
  • Air tawar per kapita dianggarkan jatuh dari 7,300 meter padu pada tahun 1995 ke 4,800 meter padu menjelang 1995 
  • sebab-sebab: 
  1.  sungai berdekatan rumah 
  2. pemendakan kelodak (siltation) 
  3. sungai menjadi surut 
  4. pencemaran 
  • Pada tahun 1995, penggunaan air di Malaysia adalah 13.5 billion meter padu

  • Malaysia membekalkan 214 juta liter air mentah sehari ke Singapura, komoditi utama negeri Johor dengan hasil lebih RM 1 juta setahun
Penggunaan air di Malaysia
  • kita memerlukan 16 billion meter padu setahun
  • pertanian – 78% 
  1. perairan menggunakan 40% dari nilai tersebut
  2. perairan titis boleh mengurangkan 25-90 % berbanding perairan tradisional
  • Industri dan domestik – 20%
  • bermasalah kerana menyebabkan kemerosotan kualiti air
  • Penggunaan domestik/awam:
  1. Di bandar – 300 – 400 liter/orang/hari
  2. Di negara membangun – 50 –100 liter/orang/hari

Selasa, 30 Juni 2015

KEGUNAAN DAN KLASIFIKASI RABUK DAN PUPUK

KEGUNAAN DAN KLASIFIKASI RABUK DAN PUPUK

Guna Rabuk adalah :

  1. Menambah atau meningkatkan kandungan bahan organik dari dalam tanah.
  2. Menambah sedikit kandungan beberapa jenis hara didalam tanah.
  3. Rabuk hijau dapat menambah kadar N dalam jumlah besar. 
  4. Meningkatkan , memperbaiki atau mempertahankan kesuburan fisik dan biologi tanah dengan menambah bahan organik dalam tanah. 
  5. Meningkatkan pertumbuhan kesehatan dan produksi dari tanaman
  6. Meningkatkan pendapatan dan keuntungan usaha tani terutama pada tanaman hortikultura, yaitu sayuran, bunga, tanaman hias dan buah-buahan.
Klasifikasi Pupuk
Digolongkan atas dasar :
  1. Proses pembentukan à pupuk alam atau pupuk buatan (pabrik).
  2. Bentuk senyawa kimia à pupuk organik dan pupuk anorganik 
  3.  Jenis kandungan hara à Pupuk hara N, P, K, S dan Mg 
  4. Banyaknya jenis hara à pupuk tunggal, pupuk majemuk, pupuk campuran.
  5. Kelarutan dari hara à Larutan cepat (NO3), larutan sedang (ZA, ZK, NP, NK, NPK), larut lambat (FA, DS). 
  6. Reaksi atau pH Pupuk à Pupuk masam, pupuk netral dan alkalik.
  7. Penempatan Pupuk à Pupuk akar (diberikan lewat tanah, media tumbuh) dan Pupuk daun (aplikasi melalui daun). 
  8. Sasaran atau tujuan à Pupuk daun (untuk organ vegetatif) dan Pupuk bunga, buah dan biji (untuk organ generatif). 
Klasifikasi Rabuk
  • Rabuk limbah hewan 
  1. Dari hewan ternak, yaitu berbentuk padat, cair atau campurannya, dapat terbentuk alami atau sengaja dibuat.
  2. Guano segar, dari limbah kelelawar dan burung walet. Terbentuk secara alami lalu ditambang.
  3. Rabuk hewan lain, dari limbah pasar hewan atau kebun binatang.
  • Rabuk limbah tumbuhan 
Dari limbah tumbuhan, terbentuk secara alami atau dengan sengaja dibenamkan.
  • Rabuk Hijau 
Dari limbah serta tumbuhan hidup terbentuk secara alami atau sengaja dibuat atau dibenamkan.
  • Kompos 
Rabuk yang sengaja dibuat dengan cara khusus dari limbah tumbuhan, bahan organik, limbah dapur dan limbah kota, memakai sedikit rabuk dari kotoran hewan, ditambah kapur atau abu.
  •  Nite Soil 
Limbah manusia yang bentuk, warna serta baunya sudah berubah atau dapat dibuat tidak berbau.

Pemakaian Bibit Unggul

Bibit = Seedling
Sleeding yaitu benih tumbuhan yang telah tumbuh dan dipersiapkan untuk usaha budidaya selanjutnya (benih yang telah berkecambah).

Benih :
  1. Biji tanaman yang dipersiapkan untuk bibit atau pembibitan.
  2. Biji yang berasal dari hasil perkawinan antara si jantan (Sperma) dan sel betina (ovum) 
  3. Biji yang bisa dipertanggungjawabkan, yaitu diketahui asal-usulnya, daya tumbuhnya, bersertifikat dan berproduksi tinggi (benih unggul).
Bibit Unggul :
Bibit yang memiliki sifat yang lebih baik daripada induknya atau tanaman sejenisnya. Sifat tersebut seringkali dapat diturunkan kepada keturunannya. Memiliki sifat produksi tinggi, tahan terhadap serangan hama dan penyakit serta dapat beradaptasi dengan baik terhadap kondisi lingkungan (iklim) disekitarnya.

Pemberantasan Hama dan Penyakit
Mikroorganisme, hama, hewan dan organisme pengganggu dapat mengkonsumsi tanaman (bagian dari tanaman), menimbulkan kerugian dan kematian tanaman. Tindakan pengamanan tanaman dari hama dan penyakit dapat dilakukan dengan jalan :
  1. Tindakan preventif, yaitu mencegah terjangkitnya serangan. 
  2. Tindakan supresif, artinya mengurangi tingkat serangan serendah mungkin. 
  3. Eradikatif, yaitu menghancurkan dan memusnahkan hama, penyakit dan tanaman yang terserang pada suatu daerah. 
Dari ketiga jenis tindakan preventif, supresif dan eradikatif, supresif lebih sering didahulukan, dengan pertimbangan beberapa hal sbb :
  • Jenis hama dan penyakit 
  • Cara mengatasi serangan 
  • Pemilihan cara pengendalian yang paling efektif dengan mempertimbangkan efek negatif bagi organisme tersebut dan lingkungannya. 
  • Mengikuti petunjuk pemakaian racun tersebut. 
Pemberantasan Gulma
Memberantas tanaman pengganggu.
Gulma yaitu tanaman yang tidak dikehendaki tumbuh diantara tanaman yang dibudidayakan.
Hubungan tumbuhan pengganggu dengan tanaman dapat berupa :
  1. A plant out of place à Tumbuhan yang tumbuh tidak pada tempatnya. 
  2. A plant with a negative value à Tumbuhan yang memberikan nilai negatif (beracun)
  3. An underivable plant à Tumbuhan yang tumbuh tidak diinginkan.
Sifat – sifat umum gulma :
  1. Daya adaptasinya besar 
  2. Daya saingannya kuat terhadap tanaman budidaya 
  3. Berkembangbiak cepat 
  4. Dormansi luas : usaha untuk mempertahankan diri. 
Kerugian yang ditimbulkan gulma :
  1. Mengurangi hasil panen (10 – 20%)
  2. Mengurangi kualitas hasil tanaman
  3. Menjadi host (inang) penyakit atau hama 
  4. Menambah tenaga kerja 
  5. Meracuni tanaman, karena ada sebagian dari gulma mengeluarkan eksudat yang berbahaya (allelopati).
  6. Mengganggu pengairan.
Penanganan Pasca Panen
Kegiatan pasca panen suatu produk budidaya tanaman meliputi :

  • Pembersihan / Pencucian 
Pembersihan : Tindakan awal setelah panen adalah membersihkan atau mencuci semua bahan hasil panen yang telah dikumpulkan. Pembersihan ditujukan untuk membersihkan semua kotoran dan membuang bagian-bagian yang tidak dapat dimanfaatkan untuk dikonsumsi, seperti tanah atau lumpur yang terbawa saat panen, dapat menjadi sumber kontaminasi berbagai macam patogen.

Pencucian : Merupakan tindakan yang ditujukan untuk mengurangi atau menghilangkan mikroorganisme yang masih terdapat atau menempel pada permukaan hasil panen, menghilangkan residu pestisida yang dapat membahayakan bagi konsumen bila dikonsumsi. Contoh pada kubis, pencucian dapat menurunkan suhu kubis, sehingga dapat menghambat respirasi, sehingga dapat memperpanjang kesegaran kubis.
  • Pengeringan
Proses pengeringan hanya sekedar menghilangkan air bekas cucian, agar pathogen tidak mudah berkembang dan merusak hasil panen, terutama mikroorganisme perusak dari golongan bakteri dan cendawan yang dapat menimbulkan kebusukan. Pengeringan dapat dilakukan dengan cara diangin-anginkan dalam ruangan atau diletakkan pada rak-rak untuk mentiris setelah pembersihan dan pencucian.
  • Sortasi atau grading 
Sortasi : adalah tindakan untuk memisahkan produksi yang baik dan rusak, rusak oleh serangan hama atau penyakit atau rusak secara fisik atau mekanis saat panen dilaksanakan.

Grading : merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengelompokkan atau menggolongkan hasil panen yang telah disortasi menjadi beberapa kelompok kelas, sehingga akan menentukan mutu dan harga produk panen.

Keuntungan sortasi dan grading yaitu :

  1. Membantu dan memudahkann konsumen untuk mendapatkan kualitas yang dikehendaki sesuai kebutuhan.
  2. Pengelompokkan kedalam kelas-kelas akan diperoleh keseragaman bahan, menurut jenis dan kualitas sehingga dapat membantu konsumen mengurangi kekeliruan dalam memilih barang yang diinginkan. 
  3. Keseragaman jenis dan kualitas, maka produsen dan penjual dapat menentukan tingkat harganya sehingga menjamin kestabilan harga pada tiap jenis.
  4. Memudahkan dalam pemasaran sesuai dengan standar mutu yang dikehendaki, baik untuk pemasaran dalam negeri maupun keluar negeri (ekspor). 
  5. Memberikan kepuasan kepada konsumen sehingga dapat meningkatkan kepercayaan konsumen yang berarti dapat menjamin kestabilan harga. 
  6. Penyimpanan 
Hasil produksi pertanian yang cepat mengalami kerusakan sehingga tidak tahan disimpan lama. Contoh : pada kubis penyimpanan dengan suhu rendah dapat memperpanjang daya simpan kubis lebih lama.
Penyimpanan tergantung pada suhu, daya simpan dipengaruhi atau dapat tergantung dari jenis komoditi panen, varietas dan waktu atau musin penanaman.

  • Pengemasan dan pengangkutan 
Pengemasan
  1. Pengemasan merupakan tahap lanjut dari penanganan produk panen pertanian, setelah melewati tahap sortasi, grading dan penyimpanan. 
  2. Pengemasan bertujuan untuk melindungi produk dari pelukaan, memudahkan dalam pengangkutan, mencegah kehilangan air, mempermudah dalam perlakuan khusus dan memberi nilai estetika untuk menarik konsumen. 
  3. Kemasan yang dianggap ideal adalah kemasan yang mudah diangkut, aman, ekonomis, mudah dihitung jumlahnya dan dapat dijamin keberhasilannya. 
  4. Kemasan yang umum digunakan berupa karung jala, kapasitas 90-100 kg. Kemasan karung jala sangat praktis dalam hal pembongkaran, tetapi tidak dapat melindungi produk dari kerusakan mekanis dan fisiologis terutama saat ditimbun didalam alat pengangkutan. 
Pengangkutan
  1. Pengangkutan adalah pengangkutan dari bangsal pengemasan ke pasar, sering disebut penyimpanan bergerak. Pengangkutan dilakukan dengan menggunakan alat angkut jalan raya berupa truk atau mobil box berpendingin. 
  2. Pengangkutan bertujuan untuk mengurangi kerusakan karena bahan cepat rusak atau membusuk, baik akibat faktor fisiologis atau faktor kontaminasi mikroba dengan benda asing. 
  3.  Pengangkutan mengurangi resiko kerusakan akibat lingkungan yang tidak memadai.
  4. Keberhasilan penggunaan sarana pengangkutan sangat tergantung pada suhu pengangkutan, type kemasan, pola pemuatan optimal, metode bongkar muat dan jarak tempuh. 
Pemasaran
  1. Pasar adalah tempat untuk melakukan transaksi atau tukar menukar barang dengan barang lain (nilai uang).
  2. Pasar tercipta karena adanya produsen atau penjual dan konsumen atau pembeli 
  3. Bentuk pasar untuk komoditas pertanian banyak sekali macamnya, misal pasar umum, pasar swalayan, warung kecil, restoran, dll, dapat tercipta juga dikebun produksi. Pasar memiliki fungsi penting untuk penyimpanan barang dari produsen ke konsumen. Kegiatan penyampaian barang dengan segala aturan permainan disebut pemasaran atau tata niaga.
  4. Pemasaran umumnya tidak langsung terjadi antara produsen dan konsumen tetapi melalui lembaga tata niaga yang dapat membantu menyalurkannya kepada konsumen. Pemasaran hasil melibatkan banyak lembaga tata niaga, maka akan terbentuk mata rantai pemasaran yang panjang dari titik produsen ke konsumen. Rantai pemasaran yang panjang akan menimbulkan tingginya margin pemasaran sehingga menyebabkan pemasaran tidak efisien. Pemasaran yang efisien, pemasaran harus menggunakan sedikit lembaga tata niaga.

DASAR – DASAR AGRONOMI

DASAR – DASAR AGRONOMI



Agronomi : Pengelolaan lapang produksi untuk mendapatkan hasil yang maksimal. 
Tiga Pengertian Pokok Agronomi : 
  • Lapang produksi (lingkungan tanaman) 
  • Pengelolaan (manajemen) 
  • Produksi maksimum (sebagai hasil proses dari 2 faktor diatas, yaitu lapang produksi dan pengelolaan). 
  1. Unsur-unsur Agronomi Fokus Agronomi - Lapang produksi, berupa sebidang tanah, bak, pot, gelas plastik, dll. 
  2. Sarana Agronomi - Pelengkap lapang sarana teknologi, berupa sarana pengolahan, penyimpanan, penyuluhan dan pengangkutan produksi. 
  3. Sasaran Agronomi - Memaksimalkan produksi, berupa buah, biji, getah dalam satuan kg, ton, dll. 
  4. Objek Agronomi - Sebagian besar adalah tanaman, berupa tumbuhan pengganggu, ternak, ikan, katak, dll. 
  5. Subjek Agronomi - Pelaku tindak agronomi, berupa petani, peneliti, tenaga penyuluh, dll. 
  6. Unit Agronomi - Satuan tertentu dalam suatu tindak agronomi, misal unit agronomi karet intensifikasi pengelolaan unit agronomi diikuti oleh meningkatnya sarana agronomi, berupa pangan, bahan dan jasa.
Tindak Agronomi 

Semua kegiatan yang berhubungan dengan agronomi. 
Tindak agronomi sempurna ditandai dengan : 
  • Lapang produksi 
  • Pengelolaan yang terencana 
  • Minat untuk mencapai produksi maksimum dengan menerapkan berbagai ilmu dan teknologi. 
Aspek dan Lingkungan Agronomi 
Meliputi 3 aspek pokok yaitu : 
  1. Aspek pemuliaan tanaman 
  2.  Aspek fisiologi tanaman 
  3. Aspek ekologi tanaman 
Merupakan suatu gugus ilmu tanaman yang berperan langsung terhadap tindak agronomi dan akan terlihat pada produksi tanaman.

Lingkungan agronomi meliputi bidang-bidang teknik budidaya, pemuliaan tanaman, teknologi benih, penanaman, pengolahan, pemberantarasan hama dan penyakit, pemberantasan gulma dan penyimpanan. 

Teknik budiadaya dalam kegiatan agronomi, meliputi : 
  1. Pengolahan tanah 
  2. Pengairan 
  3. Pemupukan 
  4. Pemakaian bibit unggul 
  5. Pemberantasan hama dan penyakit, disempurnakan dengan 
  6. Pemberantasan gulma 
  7. Penanganan pasca panen 
TEKNIK BUDIDAYA 

Pengolahan Tanah, meliputi : 
  • Tujuan pengolahan tanah 
  • Alat pengerjaan tanah 
  • Cara pengolahan tanah 
Tanah 
Dari sudut pandang bidang pertanian : merupakan tempat tumbuh bagi tanaman. 
Faktor lingkungan yang mempunyai hubungan timbal balik dengan tanaman yang tumbuh diatasnya. 
Faktor lingkungan tanah meliputi : 
  • Faktor Fisik, yaitu air, udara, struktur tanah dan suhu. 
  • Faktor Kimiawi, yaitu kemampuan tanah dalam penyediaan nutrisi atau unsur hara. 
Proses pembentukan tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : bahan induk, iklim, vegetasi, drainase dan waktu.



Dimana :
f = fungsi dari
P = parent material atau bahan induk
C = climate (iklim)
V = vegetasi
TD = topografi atau drainase
T = Time atau waktu yang dibutuhkan.

Tujuan Pengolahan Tanah
  • Menyiapkan tempat pertumbuhan benih yang serasi dan baik 
  • Menghindarkan saingan terhadap tumbuhan pengganggu 
  • Memperbaiki sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah. 
Alat Pengerjaan Tanah
Alat pengerjaan tanah à oleh tenaga manusia atau mesin.
Alat-alat pengerjaan tanah pada prinsipnya digunakan :



Senin, 04 Mei 2015

Laboratorium Teknik Sipil

Laboratorium Teknik Sipil


Laboratoria teknik sipil sebagaimana dibawah ini berfungsi sebagai pusat pembelajaran praktis dan eksperimental yang dipergunakan oleh mahasiswa dan pelayanan untuk riset dan konsultasi keteknikan mencakup desain gedung, jembatan, jalan, irigasi, dan keairan serta survey dan pemetaan. [Contact Person ; Ir. Alik Ansyori Alamsyah, MT]
a.     Laboratorium Teknologi Beton
Laboratorium Teknologi Bahan Beton ini dipergunakan diantaranya untuk pemeriksaan dan mengenal sifat-sifat bahan penyusun beton, perencanaan campuran beton segar di lapangan serta melaksanakan pengujian beton di laboratorium menurut S.K. SNI 1991. laboratorium ini selain dipergunakan praktikum dalam mata kuliah juga dipergunakan untuk sarana penelitian mahasiswa, dosen serta pelayanan konsultasi Teknik (jasa) bidang teknologi bahan dan Beton.
Peralatan yang dimiliki untuk pelaksanaan kegiatan praktikum tersebut sudah memenuhi standart peralatan praktikum Teknologi beton antara lain : Laboratry Concrete Mixer, Concrete Testing Machine, Slump Test, Electric Vibrator Laboratory, Moduluis Of Elasticity in Concrete Test, Capping Compound Warmer, Concrete Flow Table Hand, Sieve Brass Analysis, Sieve Shaker Electric, Density Baskett, Heavy Duty Solution Balance, Mortar Mixer, Vicat apparatur Test, Oven dan lain-lain. Peralatan tersebut dipergunakan untuk a). Pemeriksaan bahan susun beton, b). Perencanaan Campuran Beton, c). Pemeriksaan dan pengujian beton ; menentukan kuat hancur beton pada umur 28 hari.

b.     Laboratorium Mekanika Tanah
Laboratorium ini dipergunakan untuk penyeledikan tanah sehingga dapat mengetahui dan mengenal sifat-sifat fisik dan jenis tanah di laboratorium, baik dalam keadaan asli (undisturbed) maupun keadaan terganggu (disturbed) serta melakukan pengujian dan pemeriksaan tanah di lapangan. Laboratorium ini selain dipergunakan praktikum dalam mata kuliah juga dipergunakan untuk sarana penelitian mahasiswa, dosen serta pelayanan konsultasi Teknik (jasa) bidang mekanika tanah.
Untuk menunjang kegiatan praktikum tersebut peralatan yang dimiliki sudah memenuhi standart peralatan praktikum Laboratorium Mekanika Tanah antara lain : Hand Bor, Standart Penetration Test, Sample extruder, Dutch Cone Penetrometer/Sondir, Sand Cone Test, Rubber Ballon Test, Sieve Shaker, Hydrometer Analysis Test, Compaction test, Atterberg Limit Test, Laboratory CBR Test, Unconfined, Compression Machine, Consolidation Test, Permeability Test, Direct Shear Test dan lain-lain. Yang dapat digunakan untuk a). Pengambilan sample dengan Bor, b). Pengujian tanah dengan alat sondir, c). Pemeriksaan tanah dengan Sand Cone, d). Pemeriksaan kadar air tanah, e). Pemeriksaan Berat Jenis Tanah, f). Analisa butiran tanah (analisa saringan dan hydrometer test), g). Pemeriksaan konsistensi tanah (batas-batas Atterberg), h). Pengujian kepadatan tanah (standart dan modified), i). Pengujian Tekan Bebas Tanah, j). Pengujian CBR (California Bearing Ratio) lapangan, k). Pengujian geser tanah, l). Pengujian Konsolidasi Tanah, m). Pengujian Permeabilitas Tanah.
c.      Laboratorium Ilmu Ukur Tanah
Kegiatan pada Laboratorium Ilmu Ukur Tanah ialah melaksanakan praktikum Ilmu Ukur Tanah sebagai sarana penunjang bagi mahasiswa agar mampu melakukan pengukuran sudut dan beda tinggi pada suatu lokasi serta dapat membuat peta situasi dari suatu daerah secara tepat dan akurat.  Peralatan yang dimiliki adalah Waterpas , Thedolite (manual dan digital), Bak Ukur, Yallon. Laboratorium ini dipergunakan untuk sarana penelitian mahasiswa, dosen serta pelayanan konsultasi Teknik (jasa) bidang survay.
d.     Laboratorium Jalan Raya
Laboratorium Jalan raya ini dilengkapi dengan fasilitas/peralatan antara lain : Los Angeles Abrassion Machine, Saringan (Sieve), Oven Sand Equiovalent Test Set, Penetrasion Test Set, Ductility Test Set, Flash and Fire Point Test Set, Softening Point Screw Test Set, Automatic Bitumenous Compactor, Solubility of Bitumenous Material, Viscosity Test Set, Benkelmen Beam Apparatus, Thermometer, Neraca, Container, Softening Point Test, Absorsion of fir Aggregate, Dunagan Test set, dan Glooch Crucible. Laboratorium ini dipergunakan untuk sarana penelitian mahasiswa, dosen serta pelayanan konsultasi Teknik (jasa) bidang jalan raya.
e.     Laboratorium Hidrolika
Laboratorium Hidrolika dilengkapi dengan fasilitas/peralatan antara lain : Saluran Tertutup dan terbuka, Staff Ponit Gauge. Basic Hidraulic Bench, Dead Weight Calibrator, Hydrostatic Pressure, Flow Over Weirs, Bernaulli Therm Demostration, Osborne Reynold Demostrasion, Flowmeter Demontrasion, Velocity Meter, dan Analoque Indicator. Laboratorium ini dipergunakan untuk sarana penelitian mahasiswa maupun dosen serta pelayanan konsultasi Teknik (jasa) bidang keairan.

MEKANIKA TANAH

MEKANIKA TANAH 


Mekanika Tanah adalah bagian dari geoteknik yang merupakan salah satu cabang dari ilmu teknik sipil, dalam bahasa Inggris mekanika tanah berarti soil mechanics atau soil engineering dan Bodenmechanik dalam bahasa Jerman.


Istilah mekanika tanah diberikan oleh Karl von Terzaghi pada tahun 1925 melalui bukunya "Erdbaumechanik auf bodenphysikalicher Grundlage" (Mekanika Tanah berdasar pada Sifat-Sifat Dasar Fisik Tanah), yang membahas prinsip-prinsip dasar dari ilmu mekanika tanah modern, dan menjadi dasar studi-studi lanjutan ilmu ini, sehingga Terzaghi disebut sebagai "Bapak Mekanika Tanah".


Dalam pandangan teknik sipil, tanah adalah himpunan mineral , bahan organic, dan endapan-endapan yang relative  lepas (loose), yang terletak di atas batuan dasar (bedrock) butiran yang relative lemah disebut karbonat, zat organic, atau oksida yang mengendap diantara partikel-partikel. Proses pelapukan batuan atau proses geologi ataupun yang lainnya yang terjadi didekat permukaan bumi membentuk tanah dapat juga bersifat fisik maupun kimia.


Umumnya pelaukan terjadi akibat proses kimia yang dapat dipengarungi oleh oksigen, karbondioksida, dan air (terutama yang mengandung asam dan alkali). Jika hasil pelapukan masih berada di tempat asalnya  maka tanah ini disebut tanah residual (residual soil) dan apabila tanah berpindah tempat nya disebut tanah terangkut (transported soil). 

Istilah pasir, lempung, lanau atau lumpur digunakan untuk menggambarkan sifat tanah yang khusus, sebagai contoh lempung adalah jenis tanah yang bersifat kohesif dan plastis,sedangkan pasir digambarkan sebagai tanah yang tidak kohesif(granular).Ukuran partikel dapat bervariasi dari lebih besar 100 mm sampai dengan lebih kecil dari 0,001mm.

Ilmu ukur tanah






Ilmu ukur tanah

1.1            Maksud dan Tujuan


Peta situasi atau yang sering disebut dengan peta topografi skala besar pada umumnya dipakai untuk pekerjaan teknik sipil seperti, pembuatan waduk, perencanaan trace jalan, proyek pengaliran, dan sebagainya. Dengan demikian data-data dan informasi yang diperoleh harus lengkap yang kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk peta topografi. Praktikum Ilmu Ukur Tanah  ini dimaksudkan untuk mengumpulkan data-data dan informasi secara lengkap, kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk peta.

Adapun tujuan praktikum Ilmu Ukur Tanah ini adalah agar mahasiswa mengenal alat-alat yang digunakan serta mengoperasikannya dengan baik dan mengolah data-data serta informasi yang didapat kemudian mampu menentukan letak atau posisi, elevasi areal tanah dimana data-data tersebut diperoleh dan disajikan pada suatu bentuk peta yang menggambarkan keadaan sebenarnya.

1.2                      Cara Pembuatan Peta Situasi


Pembuatan peta situasi tidak dapat langsung jadi karena harus diawali dengan pengambilan data melalui pengukuran-pengukuran baik pengukuran horizontal maupun vertikal, sehingga setiap detail pada peta dapat diketahui posisinya terhadap bidang datar.

Pada pengukuran peta situasi ini yang harus dilakukan adalah:
1.       Pengukuran di lapangan termasuk pembuatan titik sebagai kerangka peta.
2.       Pekerjaan perhitungan.
3.       Cara pemberian koreksi pada hasil perhitungan.
4.       Proses penggambaran.

Agar diperoleh hasil yang baik dan akurat, maka masing-masing kegiatan harus dilakukan dengan teliti dan ditunjang dengan sarana yang memadai.
1.2.1        Pengukuran Kerangka Peta

Pada permukaan bumi diukur titik pasti yaitu titik yang diketahui koordinatnya dan tingginya. Kemudian dari titik-titik pasti tersebut dipetakan yang selanjutnya disebut sebagai kerangka peta. Untuk keperluan ini dibutuhkan beberapa titik pasti sebagai dasar pemetaan. Titik pasti dapat ditentukan dengan beberapa cara, antara lain:

a. Cara Astronomi

Penentuan titik pasti dengan cara astronomi pada prinsipnya menentukan posisi tempat di permukaan bumi dengan menggunakan pertolongan bintang di langit. Pengukuran ini untuk wilayah luas dan pandangan tidak bebas. Misal : A adalah titik yang diketahui posisinya di bumi dan disebut titik astronomi, BT adalah bintang yang digunakan sebagai pedoman untuk menentukan kedudukan titik A. Dari posisi pesawat diarahkan ke BT, sehingga sebagai titik astronomi mempunyai unsur-unsur Azimuth (A), garis lintang (j) dan garis bujur (cx). Oleh karena pengukuran astronomi menggunakan pertolongan bintang, maka pengukuran hanya dapat dilakukan pada malam hari.

b. Cara Triangulasi

Cara triangulasi adalah salah satu cara untuk memperbanyak titik pasti, karena awal dari pembuatan jaring-jaring triangulasi adalah suatu titik yang sudah ditentukan posisinya. Dengan cara triangulasi yang merupakan kumpulan segitiga dapat dibuat titik-titik pasti yang lain.

c. Cara Satelit

Dengan menggunakan pesawat doppler pada tempat yang akan diukur, didirikan pesawat Georeceiver, maka data dapat langsung diketahui dari satelit/pesawat tersebut.

d. Cara Poligon

Pengukuran titik pasti dengan cara poligon akan diuraikan lebih detail pada BAB 2 dan 3.



1.1.1        Pengukuran Detail

Maksud dari pengukuran detail adalah untuk memberikan data topografi di atas peta sehingga diperoleh bayangan atau informasi dari relief bumi. Kelengkungan dan ketelitian data topografi tersebut sangat tergantung dari kerapatan titik detail yang akan diukur. Untuk mengukur titik detail yang lengkap dan efisien, maka harus dipahami maksud dan kegunaan peta yang akan dibuat. Sebelum suatu daerah dilakukan pengukuran detail harus sudah ada titik ikat. Biasanya hal-hal yang perlu diukur secara detail adalah segala benda atau bangunan yang terdapat di areal yang dipetakan akan menambah kelengkapan data peta. Misalnya perbedaan tinggi muka tanah yang cukup ekstrim sehingga nantinya dapat membantu dalam pembuatan kontur.

1.2                      Perhitungan dan Penggambaran

1.3.1    Perhitungan

Didalam perhitungan, kita menggunakan alat-alat sebagai berikut:

a. T0
Digunakan untuk menembak titik-titik azimuth pada sudut-sudut istimewa dan titik kritis. Tujuannya untuk menggambar kondisi kontur di lokasi tersebut. Pada saat menembak suatu titik, kita membaca benang tengah (BT), benang atas (BA), dan benang bawah (BB) dengan 2BT = BA + BB.

b. Digital Theodolit (DT)
Dengan alat ini kita menghitung sudut dalam (b) suatu poligon serta jarak dari suatu patok ke patok lain.

c. Waterpass
Waterpass digunakan untuk mengukur jarak dan beda tinggi antara patok dengan cara menempatkan pesawat waterpass di tengah-tengah antar dua patok kemudian menembak ke arah muka dan belakang. Pembacaan alat yaitu berupa benang atas (BA), benang tengah (BT), dan benang bawah (BB). Untuk pengukuran melintang, waterpass terbatas pada azimuth untuk b/2 dan azimuth (b/2 + 180o) yang diukur adalah jarak terhadap alat dan ketinggian di atas tanah.

1.3.2    Penggambaran

Dalam penggambaran yang harus kita lakukan antara lain:
a.       Menggambar grid pada kertas kalkir.
b.      Menentukan letak patok atau koordinat poligon pada grid.
c.       Menghitung poligon.
d.      Menentukan koordinat titik detail pojok bangunan.
e.       Membuat garis kontur dengan data hasil perhitungan memancar.
f.       Mencocokan hasil gambar dengan data-data hasil perhitungan pengukuran.



iklan

 

Copyright © ILMU TEKNIK. All rights reserved. Published By Kaizen Template CB Blogger & Templateism.com