Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Mei 2014

Bahan dasar mebuat Oil

Bahan dasar mebuat Oil

Bahan dasar pembuatan pelumas oli sintetik antara lain poly-alpha-olefin (PAO), polyalkylene glycols (PAG), alkylated napthalenes (AN), alkyklated benzenes, dan  synthetic esters (misalnya: diesters, polyolesters, silicate esters, phospate esters) (en.wikipedia.org/wiki/Synthetic oil dan en.wikipedia.org/wiki/ lubricant). Miller (dalam Justiana dan Hardanie, 2007) menemukan bahan dasar baru untuk membuat pelumas sintetis yaitu dari limbah plastik jenis polietilena. 

Poly-alpha-olefin (PAO) yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan pelumas khususnya pelumas sintetik mesin kendaran adalah yang memiliki berat molekul rendah (www.wikipedia.com). Polialfaolefin adalah sebuah polimer yang dibuat dari polimerisasi alfaolefin (α-olefin). α-olefin merupakan suatu alkena yang ikatan rangkap karbon-karbon terletak diantara atom karbon nomor 1 dan 2. 
Umumnya α-olefin digunakan sebagai ko-monomer pada golongan cabang polimer alkil seperti pada 1-heksena berikut.


Banyak polialfaolefin memiliki golongan cabang alkil yang fleksibel pada setiap karbon dari rantai polimernya. Golongan alkil ini dapat membentuk dirinya dalam berbagai konformasi. Hal ini menyebabkan golongan ini “ very difficult for the polimer molecules to line themselves up side-by-side in an orderly way” (www.wikipedia.com). 
Oleh karena itu, banyak polialfaolefin yang tidak mengkristal atau tidak menjadi padatan dengan mudah dan dapat tetap berminyak, cairan kental pada temperatur rendah. Biasanya kopolimer polietilena dari alfa olefin yang memiliki berat molekul kecil (misalnya seperti 1-heksena, 1-oktena) lebih fleksibel daripada  polietilena rantai lurus dengan densitas tinggi. Golongan cabang metil pada polimer polipropilena tidak cukup lama membuat tipe propilena secara komersial lebih fleksibel dibandingkan polietilena.

  Salah satu bahan kimia yang banyak dipakai sebagai bahan dasar minyak pelumas sintetis adalah polyolester. Mulyana dan Tjahjono (2003) dalam risetnya telah berhasil mensintesis suatu senyawa polyolester dimana berdasarkan hasil analisa viskositas dan densitas terlihat bahwa senyawa tersebut menyerupai pelumas hidolik dengan tipe VG 5 atau PG 10 jenis pelumas dari pertamina. 
Tahap-tahap reaksi yang terjadi dalam proses pembuatan senyawa polyolester yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan pelumas sintetik adalah: metanolisis, produksi asam peracetate, epoksidasi, dan hidrolisis. Parameter yang diobservasi adalah konsentrasi dan komposisi reaktan, katalis dan waktu reaksi.
Plastik jenis polietilena dapat dibuat sebagai bahan dasar pembuatan pelumas. 

Dalam penelitiannya, Miller (dalam Justiana dan Hardanie, 2007) telah berhasil membuat senyawa yang mirip hidrokarbon cair yang dapat diubah menjadi pelumas. 

Adapun proses pembuatannya adalah sebagai berikut: plastik polietilena dipanaskan dengan menggunakan metode pirolisis, kemudian terbentuk suatu senyawa hidrokarbon cair yang memiliki bentuk mirip lilin (wax), sifat kimia senyawa hidrokarbon cair hasil pemanasan limbah plastik tersebut mirip dengan senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam minyak mentah sehingga dapat diolah menjadi minyak pelumas. 

Proses selanjutnya adalah mengubah senyawa hidrokarbon cair menjadi pelumas dengan menggunakan metode hidroisomerisasi

Defenisi Oil

 
 
Defenisi Oil
Minyak pelumas (oli) merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam mesin piston (motor bakar) atau mesin-mesin dimana terdapat komponen yang bergerak, seperti shaft, bearing dan gear. Hal ini karena oli berfungsi sebagai pelumas pada permukaan komponen yang saling bersentuhan. Dengan adanya pelumas, energi yang terbuang karena gesekan menjadi minimal dan dengan demikian usia pakai komponen menjadi bertambah. Fungsi oli yang lain adalah sebagai pendingin dari efek panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar dan dari gesekan antara komponen.

Pada saat mesin bekerja, gesekan terjadi berulang-ulang antar komponen mesin. Hal inilah yang dapat mengakibatkan keausan atau kerusakan pada bagian permukaan komponen tersebut. Minyak pelumas inilah yang kemudian berfungsi membuat permukaan antar komponen menjadi licin, sehingga gesekan langsung antar komponen mesin tersebut dapat dicegah. Besarnya gesekan bisa menyebabkan mesin mengalami overheat (kelewat panas) hingga macet atau menyebabkan kerusakan pada silinder, piston, klep, lahar dan lainnya. Hal itu pun dapat mengakibatkan ketidakberesan pompa oli, dan kebocoran saluran oli.

Salah satu fungsi pelumas adalah mencegah korosi (corrosion inhibitor). Proses pembakaran normal akan menghasilkan air dan asam dan ketika mesin telah dingin bisa ditemukan dalam saluran mesin, sehingga pelumas mesin perlu ditambahkan dengan bahan penghambat korosi yaitu campuran organik dari fosfor dan belerang yang dapat mencegah kecenderungan pembakaran yang menyebabkan korosi pada permukaan logam misalnya pada dinding silinder dan mencegah kerusakan bantalan-bantalan utama khususnya yang dibuat dari paduan timah-perunggu (Amanto dalam Gufron, 2006).

iklan

 

Copyright © ILMU TEKNIK. All rights reserved. Published By Kaizen Template CB Blogger & Templateism.com